HARIAN DISWAY - Di era digital saat ini, informasi dapat diakses dengan sangat cepat melalui berbagai platform media.
Berita tentang konflik dan perang dari berbagai belahan dunia, misalnya. Sering muncul di layar ponsel maupun televisi.
Meski penting untuk mengetahui perkembangan dunia, paparan berita perang yang terus-menerus dapat berdampak negatif. Memicu rasa cemas, takut, bahkan panik pada sebagian orang.
Para ahli kesehatan mental menyebut fenomena itu sebagai dampak psikologis dari konsumsi berita negatif yang berlebihan.
BACA JUGA:Dampak Perang Iran dan Kemesraan AS-Inggris: Inggris Tak Lagi Setia Seperti Dulu
BACA JUGA:Kematian Ayatollah Ali Khamenei Justru Bikin Legitimasi Rezim Menguat, Iran Masuk Fase Perang Atrisi
Ketika seseorang terus-menerus membaca atau menonton berita tentang kekerasan, serangan militer, atau korban perang, otak akan meresponsnya. Sehingga seolah-olah ancaman tersebut terjadi di sekitar mereka.
Rasa takut dan overthinking setelah membaca berita konflik ternyata hal yang wajar. Namun, ada cara sederhana untuk menjaga pikiran tetap tenang.--Pinterest
Dampak Psikologis Membaca Berita Perang
Salah satu dampak yang paling umum adalah meningkatnya rasa cemas. Informasi yang berulang tentang konflik dapat membuat seseorang merasa tidak aman. Meskipun secara geografis mereka berada jauh dari lokasi perang.
Selain itu, paparan berita yang intens juga dapat menimbulkan stres emosional. Orang yang sensitif terhadap isu kemanusiaan sering kali merasakan empati yang sangat kuat. Terutama terhadap para korban. Akibatnya, muncul perasaan sedih, marah, atau tidak berdaya.
Dampak lain yang juga kerap muncul adalah gangguan tidur. Banyak orang tanpa sadar membaca berita sebelum tidur.
BACA JUGA:Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Ekonomi: Ketika 'Mental Kuat' Tak Lagi Cukup
BACA JUGA:Gaya Hidup Slow Living Selama Ramadan, Fokus Ibadah dan Kesehatan Mental
Ketika berita yang dikonsumsi berisi informasi menegangkan, pikiran menjadi sulit rileks. Sehingga kualitas tidur menurun.
Tidak sedikit pula orang yang mengalami overthinking. Mereka mulai membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Bahkan merasa masa depan menjadi tidak pasti.