RAMAI WA-WA group hari ini (kemarin, Red)... Ya sudah, kita bawa hikmah dan doa saja... Kita banyak baca angka: soal naiknya harga minyak, dolar AS, dan turunnya IHSG... Gak jadi analis dadakan, sih... Ngajak ngambil hikmah dan doa. Sekaligus nguatin aja.
Harus peduli. Sama urusan nasional dan geopolitik global. Tapi, sejauh-jauhnya, kita-kita mah, jadiin "ngaji” aja, pengajian, kajian, dan doa.
Publik Indonesia hari ini melihat data-data yang cukup membuat banyak orang terdiam, khususnya, katanya, bagi yang paham.
Tadi (kemarin, Red) saya sampai nungguin jam 12... Penutupan perdagangan saham sesi pagi. Jam 12. Kebetulan, izin Allah, zuhurnya 12.04 untuk Tangerang.
BACA JUGA:MBG: Antara Nutrisi dan Krisis Keamanan Pangan
BACA JUGA:Masa Depan Media Massa Indonesia: Dari Krisis Menuju Transformasi
Pasar saham kita, IHSG, pada penutupan sesi pagi turun sekitar 3 persen. Bahkan, di tengah sesi sempat jatuh mendekati 4 persen, sebelum sedikit pulih menjelang penutupan siang.
Bagi yang mengikuti pasar, penurunan seperti itu bukan hal kecil. Di saat yang sama, tekanan juga datang dari dua arah lain. Double shock.
Harga minyak dunia, yang sebelumnya berada di kisaran USD70 per barel, kini bergerak di sekitar USD110 per barel. Kenaikannya lebih dari 50 persen. Lalu, kurs dolar AS terhadap rupiah juga bergerak naik, dari sekitar Rp16.800–Rp16.900 menuju kisaran Rp17.000.
Ya. Saya baca di grup-grup WA... Sebagian orang menyebut kondisi seperti ini sebagai double shock. Yakni, ketika minyak naik, dolar AS ikut naik. Sebab, kita masih impor tuh. Dan, impor pakai dolar. Dobel-dobel dah. Harga barang naik, duit buat beli, naik juga kursnya. Iya kalo belinya sedikit. Ini buat sebangsa setanah air.
BACA JUGA:Job Hugging vs Job Hopping: Paradigma Karier di Tengah Krisis Ekonomi
BACA JUGA:Menumbuhkan Kebijaksanaan Kuno pada Saat Krisis
Apalagi, pada saat yang sama pasar saham juga jatuh. Saya nyebutnya jadi triple shock. Seperti tiga gelombang tekanan yang datang hampir bersamaan. Minyak. Dolar. Pasar saham.
Jika tekanan seperti itu berlangsung lama, biasanya efeknya tidak berhenti di pasar saja. Urusan yang kelihatan langsung terdampak, biaya transportasi dalam negeri, naik. Apa aja naik. Logistik, dll.
Lalu, muncul efek domino.