Krisis dan Pelajaran dari Para Nabi

Selasa 10-03-2026,09:52 WIB
Oleh: Yusuf Mansur*

Persediaan oksigen Nabi Yunus di perut ikan terbatas. Jika ia panik, celaka semua. Apalagi, sampai marah-marah. Wah, ikannya bisa ikut panik dan marah-marah dan tambah menjauh dari pantai.

Tapi, Nabi Yunus ditenangkan Allah. Dengan zikir... Berzikir... Akhirnya ikan pun malah bisa dikendalikan. Dari dalam perut ikan, di kegelapan malam, di laut pula. Dan, gak ada pelatihan dulu sebelumnya bagi Nabi Yunus. Tahu-tahu, kecemplung dan dicemplungin. Gak ada pengalaman apa-apa.

Lalu, dia berseru dalam kegelapan-kegelapan itu: Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Lalu, Allah menjawab Yunus: ”Maka, Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kesedihan.” (Q.S. Al-Anbiya: 87–88)

Masih datang pula kisah Nabi Nuh. Beliau berdoa kepada Allah ketika ujian sangat berat. ”Maka, dia berdoa kepada Tuhannya: Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku.” (Q.S. Al-Qamar: 10)

Lalu, datang badai besar. Air turun dari langit. Air keluar dari bumi. Dari dapur Nabi Nuh. Yang menjelma menjadi banjir terbesar sepanjang sejarah yang dikenal umat manusia di bumi.

Kapal Nabi Nuh berlayar di tengah gelombang yang luar biasa. Allah menggambarkannya: ”Bahtera itu berlayar membawa mereka di tengah gelombang seperti gunung-gunung.” (Q.S. Hud: 42)

Gelombang seperti gunung. Ya Allah. Kelasnya bukan kelas super-tsunami. Gelombangnya kayak gunung, bergunung-gunung. Teknologi perahu, pasti juga gak kayak kapal induk AS, Abraham Lincoln. Gak ada teknologi, kecuali ia adalah bahtera iman. Yang dinakhodai orang beriman. Sedang lautan punya Allah, bahaya punya Allah, keselamatan juga punya Allah. Maka, ya terserah Allah.

Nabi Nuh tidak hanya selamat berlayar. Tapi, juga selamat sampai berlabuh. Dan, berketurunan. Bisa jadi kita adalah ”Bin Nuh” semua, hehehe. Keturunan Nabi Nuh. 

Kawan-kawan... Lihat... Yang bersama Allah, selamat semua... Pastikan saja bersama Allah.

Pakai otak. Tapi, sujud. Pakai otak. Tapi, puji Allah, bertasbih kepada-Nya. Minta ampun, minta maaf, perbaiki diri.

Yunus mendapati malah, masalahnya diberesin Allah. Sesampai di tepi pantai dan di daratan, ia mendapati kaumnya diberesin Allah. Diperbaiki Allah.

Yunus gak heran. Beliau dah tambah belajar di episode gelap berganda. Hidayah dan keselamatan milik Allah. Bahkan, saat ia gak menyentuh kaumnya, gak menyentuh umatnya. Allah yang menyentuh mereka.

Nah, keadaan kita juga bakalan begini... Pastikan aja, kita bersama Allah. Dan, Allah insya Allah berkenan membersamai kita. Laa takhof walaa tahzan... ’Jangan takut, jangan sedih... Jangan jatuh, jangan cemas....’

Mau kayak apa kek syoknya, hantamannya, badainya... Bisa jadi ia nanti kayak riak kecil aja. Untuk membuat kita takjub dan percaya, bahwa Allah Maha Segala-galanya. (*)


*) Yusuf Mansur, pendakwah, pengusaha, dan pimpinan Pesantren Daarul Qur’an, Tangerang.

Kategori :