Yang pasti, kunjungan Wamenkes dr Benny seperti mengingatkan kita bahwa urusan kesehatan tidak selalu lahir dari rapat panjang. Apalagi, slide PowerPoint atau pidato teknokratis yang tebal istilah.
Kadang ia lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: empati. Di tempat seperti CDC RS Mata Undaan itulah negara belajar melihat kembali tujuan aslinya. Membuat orang yang hampir kehilangan cahaya bisa kembali memandang dunia.
Bagi orang yang penglihatannya kembali pulih, negara bukan lagi konsep konstitusi. Negara adalah cahaya yang kembali masuk ke mata warganya yang semula tak bisa melihat.
Siapa sangka, percakapan tentang cahaya itu justru datang dari seorang menteri Arema yang setengah Aremania, setengah Bonek. Kombinasi yang di sepak bola mungkin rawan ricuh. Namun, di dunia kesehatan justru bisa jadi obat penawar.
Suatu saat, ketika makin banyak orang bisa melihat karena kornea yang didonorkan sesamanya, orang akan mengingat: pernah ada seorang wakil menteri yang mampir ke bank mata di Undaan pada siang di bulan Ramadan.
Ia datang bukan membawa gol di Stadion Kanjuruhan atau Gelora 10 Nopember. Tapi, membawa sesuatu yang lebih penting, peluang bagi banyak orang untuk kembali melihat dunia dengan terang.
Kadang, revolusi kecil memang tidak datang dari tribun stadion. Tapi, dari sepasang mata yang kembali menyala. (*)