THR Turun, Harga Naik

Jumat 13-03-2026,09:33 WIB
Oleh: Machsus*

Ketika jutaan rumah tangga mulai mengerem konsumsi karena keterbatasan daya beli, dampaknya tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga oleh sektor usaha yang bergantung pada permintaan pasar domestik. 

Pandangan itu sejalan dengan gagasan ekonom Inggris John Maynard Keynes (1936) yang menekankan bahwa konsumsi rumah tangga merupakan penggerak utama aktivitas ekonomi.

Secara sederhana, kesejahteraan rumah tangga dapat dipahami melalui rasio antara pendapatan dan biaya hidup. Jika biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pendapatan, secara matematis kesejahteraan relatif akan menurun. 

Lebaran pun menghadirkan semacam paradoks sosial-ekonomi bahwa tradisi kebersamaan dan perayaan tetap dijaga, tetapi biayanya terasa makin tinggi dari tahun ke tahun. 

Banyak keluarga akhirnya merayakannya dengan lebih sederhana, bukan sekadar pilihan spiritual, melainkan juga bentuk penyesuaian terhadap realitas ekonomi. 

Jika kondisi tersebut terus berulang, ironi itu akan tetap sama: THR Turun, Harga Naik. (*)

*) Machsus, wakil ketua Komite Tetap Usaha Perhubungan Darat, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur; dosen teknik infrastruktur sipil, Fakultas Vokasi, ITS; wakil rektor II ITS. 

 

Kategori :