Uniknya, Ngadirejo bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah koridor sejarah "Babat Tengger". Rangkaian perjalanan Prabu Brawijaya saat menyingkir ke Bali.
Nama-nama dusunnya punya cerita. Dusun Kletak, misalnya. Dinamakan begitu karena pengikut Brawijaya menggletak (merebahkan tubuh) saking lelahnya. Lalu ada Ledok Kepor, Krajan, Cemorogading, hingga Wonokoyo. Semuanya monumen ingatan yang hidup.
Antropologi merajut sejarah ini ke dalam skema ekonomi hijau. Kami menyebutnya rintisan Dunia Sabda (Duda). Ngadirejo bukan sekadar dunia industri (Dudi). Ia adalah dunia tempat "Sabda Tuhan" melalui alam dijaga dengan akhlak.
Pembeli kredit karbon dari Bromo nantinya bukan hanya membeli angka CO2. Mereka juga membeli cerita. Cerita penyelamatan 62 sumber mata air, pencegahan longsor, dan kelestarian "Putra Putri Peradaban Tengger".
Hilirisasinya jelas: Dana Abadi Beasiswa. Rasa syukur atas tertanamnya 10.000 pohon Cemara Gunung (bertahap) di bulan Februari lalu harus berbuah manis bagi pendidikan.
Anak-anak petani di Ngadirejo tidak boleh lagi risau soal biaya kuliah. Asap karbon dari industri di kota besar (di berbagai belahan dunia) akan "membayar" ijazah sarjana mereka. Pohon yang mencegah longsor fisik, pada akhirnya juga mencegah "longsornya" harapan masa depan generasi muda.
Kunjungan Hari Senin kemarin mempertegas satu hal: Perhutani Jatim akan hadir langsung dalam Sarasehan di lapangan pada Bulan Syawal mendatang. Ini bukti bahwa sinergi Tripartit—Kampus, Perhutani, dan Desa—adalah jawaban nyata. Bagi saya, 10.000 pohon Cemara Gunung di Petak 22 itu adalah prasasti hidup.
Bukti bahwa saat kita mampu membaca sasmita alam dan meresponsnya dengan sains, kemiskinan dan kerusakan lingkungan bisa kita kepung bersama.
Jawa Timur sedang melaju. Melaju dengan nafas oksigen dari Bromo yang menebar berkah hingga ke ruang-ruang kuliah. (Bersambung/*)
*) Antropolog Ekologi, Kepala Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Antropologi) FISIP Universitas Airlangga Surabaya.