Rudal Tomahawk Tewaskan Ratusan Siswi di Minab, AS Mengaku Ada Kesalahan Target

Jumat 13-03-2026,16:14 WIB
Reporter : Fiella Widya Rahma Aprillia
Editor : Taufiqur Rahman

HARIAN DISWAY - Investigasi militer Amerika Serikat (AS) menetapkan bahwa rudal Tomahawk milik AS yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran adalah akibat dari kesalahan penargetan (targeting mistake)seperti yang dilaporkan oleh The New York Times.

Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa penyelidikan terhadap serangan pada Sabtu, 28 Februari 2026 itu masih berlangsung, dengan temuan awal yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Dilansir dari CNN, militer AS secara tidak sengaja menghantam sekolah tersebut yang lokasinya berada di kota selatan Minab.

Pada awalnya, militer AS sebenarnya mengebom sebuah pangkalan Iran yang berada di dekatnya, yang mencakup lokasi bangunan sekolah tersebut. Namun, koordinasi target ditetapkan dengan menggunakan data yang tidak lagi relevan, dilansir dari laman The New York Times.

BACA JUGA:Fasilitas Energi Jadi Target, Ini Daftar Kilang dan Depot Minyak yang Diserang dalam Konflik Iran-AS-Israel

BACA JUGA:Pengamat: Perang AS–Israel vs Iran Masuk Tahap Perang Hibrida

Presiden AS Donald Trump pada awalnya menyatakan bahwa Iran sendiri mungkin bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, rudal Tomahawk bukanlah jenis rudal yang dimiliki Iran.


Citra satelit yang diambil oleh 2026 Planet Labs PBC menunjukkan sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, provinsi Hormozgan, Iran, pada 4 Maret 2026 setelah terkena serangan gabungan AS-Israel-2026 Planet Labs PBC-AFP Forum

Media Iran melaporkan sedikitnya terdapat 165 korban tewas dalam tragedi tersebut. Terdiri dari siswi dan staf sekolah sebagai akibat dari serangan kesalahan penargetan ini.

Dalam laporan yang ditulis New York Times, Para perwira Komando Pusat AS membuat koordinat serangan target dengan menggunakan data lama yang diberikan oleh Defense Intelligence Agency.

Hingga kini para penyelidik masih menelusuri mengapa informasi yang sudah tidak relevan  itu digunakan dalam perencanaan serangan dan siapa yang gagal memverifikasi data tersebut.

BACA JUGA:Hari Ke-13 Perang, Iran Lancarkan Serangan Paling Masif pada Malam Lailatul Qadar

BACA JUGA:Evakuasi WNI dari Iran Dimulai, 22 Orang Tiba di Tanah Air

Sekolah tersebut dilaporkan berada di blok yang sama dengan bangunan yang dipakai oleh angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Lokasi sekolah tersebut juga sebelumnya merupakan bagian dari pangkalan militer.

Namun, sejak 2013 hingga 2016, bangunan yang kini digunakan sebagai sekolah tersebut dilaporkan telah dipagari dan dipisahkan dari pangkalan angkatan laut.

Akibat insiden ini, Presiden Iran Masoud Pesezhkian menyalahkan Amerika dan Israel. Namun, Israel membantah mengenai keterlibatannya. Sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan sengaja menargetkan sekolah.

Sementara itu, dalam pidato yang ditujukan pada rakyat Iran, pemimpin baru Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan tekad untuk membalaskan dendam para syahid yang gugur akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. 

Pembalasan dendam, kata Mojtaba, tidak semata-mata terbatas pada wafatnya Ali Khamenei, tapi juga seluruh tumpah darah Iran yang terbunuh dalam perang ini. "Kami akan memiliki sensitivitas khusus mengenai darah anak-anak kami. Oleh karena itu, kejahatan yang sengaja dilakukan oleh musuh di sekolah Shajareh Tayyebah di Minab dan insiden serupa memiliki signifikansi khusus dalam hal ini (pembalasan dendam,Red)," kata Mojtaba.(*)

Kategori :