Lebih gila lagi, sistem AI itu melakukan pengepungan digital. Sesaat sebelum rudal menghantam, AI memutus seluruh koneksi menara seluler di radius lokasi target. Sang pejabat tidak bisa menelepon. Pengawal tidak bisa meminta evakuasi menit terakhir. Mereka dieksekusi dalam kesunyian komunikasi yang sangat klinis.
Mari kita letakkan kacamata hukum sebentar dan memakai pisau bedah geopolitik yang lebih dingin. Ala lembaga pemikir strategis.
Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini sejatinya bukan murni unjuk gigi teknologi pembunuh. Bukan pula semata-mata soal mencegah nuklir Iran.
Ini adalah urusan perut. Urusan dominasi. Urusan siapa yang memegang leher ekonomi dunia.
Siapa yang mengontrol Selat Hormuz, dialah yang mengendalikan 20 persen suplai energi global.
Washington memiliki agenda terselubung bernama dominasi energi Amerika Serikat. Ketika Iran terjepit dan akhirnya menutup Selat Hormuz secara efektif, lalu lintas tanker minyak global anjlok. Eropa panik bukan main. Lalu, siapa penyelamatnya? Gas alam cair buatan Amerika Serikat (AS).
Eropa kini terpaksa membeli gas AS dengan harga selangit. Setiap harga minyak mentah global naik satu dolar AS, perusahaan energi di Texas untung ratusan juta dolar per hari. Perang itu adalah durian runtuh bernilai triliunan dolar bagi AS.
Bahkan, Amerika Serikat sengaja menjaga agar kilang minyak Kharg Island milik Iran tidak hancur lebur dibom. Mengapa? Sebab, infrastruktur itu dijaga tetap utuh untuk diwariskan kelak kepada rezim pemerintahan baru Iran yang pro-Barat.
Di balik kemesraan militer itu, ada retakan yang sangat dalam antara Amerika Serikat dan Israel. Retakan yang sangat berbahaya.
Seorang pejabat Gedung Putih sampai blak-blakan kepada media bahwa Israel tidak benci kekacauan, justru AS yang benci dan menginginkan stabilitas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang memainkan gim tingkat tinggi. Ia pada dasarnya memanipulasi Presiden AS Donald Trump. Setiap kali AS hampir mencapai kesepakatan damai dengan Iran, Israel langsung menyabotase dengan membunuh tokoh kuncinya.
Ali Larijani adalah sosok pejabat Iran yang paling rasional dan bisa diajak berunding oleh komunitas internasional. Israel dengan sengaja menjadikannya target AI dan membunuhnya. Meja perundingan pun hancur berantakan. Hebatnya, Trump justru dibujuk agar ikut puas dengan pembunuhan itu. Netanyahu berhasil menyeret AS ke dalam perang habis-habisan yang dibayar menggunakan uang pajak dan aset militer AS.
Sementara itu, Tiongkok yang mengandalkan sepertiga minyaknya dari Selat Hormuz sedang dijebak. Trump menantang Beijing untuk mengirim kapal perang ke Hormuz guna ikut menjaga keamanan.
Itu adalah taktik simalakama yang brilian. Jika Tiongkok menurut dan mengirim kapal, berarti Beijing secara tidak langsung tunduk pada hegemoni Washington di Teluk. Jika Tiongkok menolak, Washington akan menuding Beijing sebagai parasit yang enggan bertanggung jawab atas krisis dunia.
Di saat para pemimpin negara adidaya asyik bermain catur geopolitik tersebut, mesin pembunuh AI itu terus menyala. Mencari anomali. Merangkai data. Menyiapkan target berikutnya.
Lalu, lihatlah bagaimana Tiongkok dan Rusia pasti bereaksi. Beijing dan Moskow pasti sedang keringat dingin. Para jenderalnya tentu memutar otak. Mereka sadar bahwa teknologi yang dibangun untuk melindungi penguasa ternyata bisa berbalik memakan tuannya.