Melihat semua kegilaan itu, ingatan saya kembali ke ogoh-ogoh di Lapangan Puputan.
Ogoh-ogoh itu dibakar agar kejahatan dan kekacauan musnah. Agar besoknya manusia bisa memulai hidup dari titik nol dengan hati yang lebih bersih.
Sayang, sistem kecerdasan buatan di langit Timur Tengah sana tidak bisa dibakar dengan obor bambu. Server-server itu ditanam di dalam bunker yang kebal rudal. Algoritma itu terus belajar. Terus berevolusi. Terus menyempurnakan seni mencabut nyawa. (*)