Dari Sekolah Unggulan ke Universitas Unggulan: Tantangan Baru bagi Perguruan Tinggi Islam

Senin 30-03-2026,16:06 WIB
Oleh: Sri Warjiyati*

DI TENGAH ambisi besar mencetak generasi unggul, ada satu pertanyaan krusial yang sering luput, apakah kita sudah menyiapkan ”rumah intelektual” yang layak bagi mereka setelah lulus?

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia makin serius membangun ekosistem pendidikan unggulan sejak jenjang sekolah menengah. Kehadiran lembaga seperti MAN Insan Cendekia, SMA Taruna Nusantara, SMA Pradita Dirgantara, serta gagasan yang lebih baru seperti Sekolah Garuda memperlihatkan arah kebijakan yang cukup konsisten. 

Negara tampaknya ingin menyiapkan generasi muda dengan kapasitas akademik yang kuat, kemampuan kepemimpinan, serta daya saing global sejak usia relatif dini. Sekolah-sekolah itu dibangun dengan kurikulum yang menekankan sains dan teknologi, dipadukan dengan pembinaan karakter dan sistem seleksi yang ketat.

Di balik optimisme tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang jarang dibicarakan secara mendalam. Ke mana sebenarnya lulusan sekolah unggulan itu akan melanjutkan pendidikan tinggi mereka? 

Apakah jalur yang dianggap paling rasional adalah mengarahkan mereka menuju universitas di luar negeri? Atau, justru perguruan tinggi dalam negeri perlu menyiapkan diri agar mampu menjadi tahap berikutnya dalam ekosistem pendidikan unggulan itu sendiri?

Pertanyaan tersebut bukan sekedar soal pilihan studi lanjut, tetapi menyangkut arah masa depan ekosistem pendidikan nasional.

Pertanyaan itu menjadi makin menarik ketika kita melihat posisi universitas Islam negeri (UIN). UIN memiliki karakter yang berbeda dengan banyak perguruan tinggi lain di Indonesia. 

Ia berdiri di persimpangan antara dua tradisi pengetahuan, yaitu ilmu pengetahuan modern dan khazanah intelektual Islam. Kombinasi tersebut membuka kemungkinan menarik, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak sederhana.

Untuk memahami persoalan itu secara lebih mendasar, kita perlu melihat pendidikan bukan sebagai institusi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sebuah sistem yang saling terkait. 

Pemikiran ekonom Michael Kremer dapat memberikan perspektif yang berguna. Dalam artikelnya, The O-Ring Theory of Economic Development, yang terbit pada 1993, Kremer menjelaskan bahwa dalam sistem produksi modern, kualitas setiap komponen saling bergantung satu sama lain. 

Ia mengambil analogi dari tragedi pesawat ulang alik Challenger pada 1986. Kecelakaan tersebut ternyata dipicu oleh kegagalan sebuah komponen kecil bernama O ring. Meskipun ukurannya sangat kecil, kegagalan komponen itu menyebabkan runtuhnya keseluruhan sistem.

Kremer menggunakan peristiwa tersebut untuk menjelaskan bahwa dalam sistem yang kompleks, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh satu faktor dominan. Ia bergantung pada kualitas yang saling melengkapi di antara berbagai komponen yang bekerja bersama.

Jika logika itu diterapkan pada sistem pendidikan, pendidikan dapat dipahami sebagai rangkaian kualitas yang terhubung dari satu tahap ke tahap berikutnya. Sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi membentuk sebuah rantai yang tidak terpisah. 

Sekolah unggulan mungkin berhasil menghasilkan siswa dengan kemampuan akademik tinggi. Namun, apabila jenjang berikutnya tidak mampu mengembangkan potensi tersebut secara optimal, keseluruhan sistem pendidikan akan kehilangan daya ungkitnya.

Dengan kata lain, keberhasilan sekolah unggulan seperti MAN Insan Cendekia atau SMA Taruna Nusantara tidak akan mencapai potensi penuhnya jika tidak diikuti oleh universitas yang mampu melanjutkan proses pembentukan intelektual para lulusannya. 

Kategori :