815 Desa di Jatim Terancam Kekeringan Akibat 'Godzilla El Nino'

815 Desa di Jatim Terancam Kekeringan Akibat 'Godzilla El Nino'

Khofifah Kirim 30 Tangki Air Bersih ke Lumajang, Bantu Atasi Kekeringan.-Tim Khofifah Indar Parawansa-Tim Khofifah Indar Parawansa

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Bayang-bayang krisis air bersih mulai menghantui wilayah Jawa Timur. Fenomena El Nino ekstrem, atau yang kondang dijuluki ‘Godzilla El Nino’, diprediksi akan memicu kemarau panjang dan suhu udara yang jauh lebih panas pada tahun ini, Rabu, 1 April 2026. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memetakan sedikitnya 815 desa di 222 kecamatan yang tersebar di 26 kabupaten berpotensi terdampak kekeringan. Wilayah-wilayah ini mayoritas merupakan daerah tadah hujan yang minim infrastruktur air bersih permanen.

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengungkapkan bahwa kewaspadaan telah ditingkatkan menyusul prediksi BMKG yang menyebut musim kemarau akan berlangsung sejak April hingga November 2026. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.

“Fenomena El Nino tahun ini diprediksi lebih kuat atau ekstrem. Dampaknya suhu lebih panas dan periode kemarau lebih panjang. Ini tentu meningkatkan risiko kekeringan signifikan,” ujar Gatot dalam keterangannya.

BACA JUGA:Ribuan Desa di Jatim Berpotensi Alami Kekeringan, BPBD Imbau Warga Hemat Air

BACA JUGA:Khofifah Bangun Spillway di Sungai Tanggul Jember Atasi Banjir-Kekeringan, Dana Rp 15,6 M, Target Tuntas 270 Hari

Menyikapi ancaman tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat menyiapkan strategi mitigasi. Dalam waktu dekat, Gubernur Jawa Timur dijadwalkan memimpin rapat koordinasi (rakor) lintas sektor untuk menyinkronkan langkah penanganan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Gatot menegaskan, fokus utama saat ini adalah menjamin ketersediaan air bersih bagi warga terdampak. BPBD telah menyiapkan skema distribusi air menggunakan truk tangki ke titik-titik krisis.

“Distribusi air bersih jadi prioritas utama. Kami tidak ingin masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian. Pemetaan wilayah prioritas terus kami pertajam agar bantuan tepat sasaran,” tegasnya.

Selain bantuan darurat, BPBD mendorong pemerintah daerah melakukan langkah preventif seperti optimalisasi sumber air lokal, pembangunan tandon air, serta edukasi penghematan air kepada masyarakat. Gatot mengimbau warga mulai menampung air dan menggunakan pasokan yang ada secara bijak sebelum puncak kemarau tiba.

Fenomena Godzilla El Nino sendiri ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang drastis. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini tak hanya memicu krisis air, tapi juga mengancam produktivitas pertanian di lumbung pangan nasional seperti Jawa Timur.

“Sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat adalah kunci. Kesiapsiagaan harus maksimal agar dampak kemarau ekstrem ini bisa kita lalui bersama,” pungkas Gatot. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: