Batik printing. Itulah salah satu tantangan yang harus dihadapi pebatik klasik. Termasuk para pebatik di Kampung Batik Jetis, Sidoarjo. Selisih harga jauh berbeda. Tapi para pebatik di kampung itu tak tergoda untuk beralih. Bagi mereka, kualitas lebih ditekankan.
Sebagian besar bangunan di Jetis berarsitektur klasik. Peninggalan era kolonial. Banyak yang mempertahankan keaslian.
Tapi ada pula yang memberi sentuhan kekinian. Selain batik dan musala di tiap gang, itulah yang menjadi ciri khas unik kampung tersebut.
Seperti dua bangunan milik Batik Namiroh. Dua-duanya masih tampak klasik. Salah satu lokasi menghadap selatan. Cukup luas.
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (2): Kampung Batik Jetis, Musala Tiap Gang dan Jejak Dakwah Islam
Proses mencanting yang dilakukan karyawan Batik Namiroh di Kampung Jetis, Sidoarjo. Tahapan-tahapan yang dilakukan memastikan kualitas produk batik khas Jetis.-Boy Slamet-Harian Disway
Lokasi itu dipergunakan sebagai tempat berkumpul para karyawan. Sering pula digunakan sebagai kegiatan mencanting.
Siang itu, 23 Februari 2026, hanya tampak seorang di bangunan tersebut. Masih muda. Berkerudung hitam. Menekuni sehelai kain di depannya. Satu sisi kain disangga dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya memegang canting.
Dia bukan karyawan Batik Namiroh. Melainkan mahasiswa magang. Namanya Salsa Herlinda Aprilia. "Kalau bulan puasa begini, aktivitasnya sedikit dikurangi. Saya hari ini kebagian tugas mencanting," katanya.
Salsa merupakan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya jurusan Seni Rupa Murni. Belum genap sebulan magang.
BACA JUGA:Kampung Sukolilo Guyub Selenggarakan Tradisi Kupatan 7 Syawal, Yang Sedang Lewat Juga Ikut Rebutan
BACA JUGA:Mengakar untuk Tumbuh, Mbangunredjo Art Festival Suguhkan Performance Art di Jalanan Kampung
Namun, kegiatan itu telah memberinya banyak wawasan. Terutama soal proses membatik, motif, dan bahan-bahan yang digunakan.
"Secara teknis berbeda dengan materi membatik yang saya dapatkan di kampus. Di sini ada proses mengisi warna, memberi kontur, membuat desain. Itu semua dilakukan dengan detail dan cermat," ungkapnya.
Jika di kampus, dia membatik dengan kain seadanya. Di Batik Namiroh, Salsa diberikan kain berkualitas. Seperti kain mori, prima atau primis. Kemudian saat di kampus, dia biasa menggunakan materi warna rhenasol.