BACA JUGA:Mbangunrejo Art Festival 2025, Berbagai Pentas Seni Tampilkan Wajah Baru Kampung Bangunrejo
Soal batik printing, awalnya sebenarnya tak terlalu bermasalah. Sebab, para pebatik di Jetis sudah memiliki pasarnya sendiri-sendiri. Tak terpengaruh.
Namun, perkembangan zaman dan tren mode hanya menyosialisasikan soal pentingnya mengenakan batik sebagai warisan budaya bangsa. Kurang ada usaha untuk memopulerkan batik canting.
"Promosi batik memang sukses. Tapi sayangnya semakin banyak orang memilih batik printing. Dengan alasan harga murah. Namun, semua tahu bahwa batik semacam itu cuma sak slegrengan. Hanya dipakai sesaat. Beberapa bulan warnanya sudah luntur," ujar pria 36 tahun itu.
Padahal, pada masa lalu orang membeli batik untuk investasi. "Pernah dengar gaden batik? Menggadaikan kain batik untuk mendapat sejumlah uang pinjaman. Karena tren batik printing itu, sekarang sudah tidak ada lagi gaden batik," ungkapnya.
BACA JUGA:Peluncuran Buku Seribu Gagasan Omah Ndhuwur, Hadirkan Perspektif Kritis tentang Kampung Bangunrejo
BACA JUGA:Jeritan Kampung Dupak Bangunrejo Lewat Drama Monolog Sangkan Paran: Jantung Tanpa Hati
Dulu, harga batik canting memang mahal. Tapi orang rela menabung untuk membelinya. Kain batik itu kemudian disimpan. Investasi. Semakin lama harganya semakin mahal. Tapi itu dulu. Sekarang sudah berbeda.
"Meski memang kami memiliki pasar masing-masing, keberadaan batik printing tentu menghilangkan kekhasan batik sebagai alat investasi yang bernilai. Jika tren itu dibiarkan, lama-lama tidak ada lagi yang berminat membatik dengan canting. Fenomena itu harus diperhatikan," ujar ayah dua anak itu.
*Napas terakhir Batik Ny. Wida, baca seri selanjutnya...