Apa yang dilakukan Wawan adalah menjawab persoalan klasik itu: konsistensi. Melalui pembibitan terkontrol, pemotongan standar, dan pengemasan modern. Ia berusaha memastikan bahwa setiap potongan daging membawa kualitas yang relatif seragam.
Di tangan Wawan, kualitas produk domba tak hanya dinaikkan. Namun, ia juga berusaha membangun ekosistem: dari peternakan, pemrosesan, distribusi, hingga konsumsi. Setiap bagian saling terhubung dan saling menguatkan.
Menariknya, perubahan itu tidak datang dengan pendekatan yang agresif. Tidak ada klaim revolusioner yang berisik. Hanya standar yang diterapkan secara konsisten, lalu dikomunikasikan dengan cara yang rapi.
”Kami sedang membangun lahan peternakan yang terintegrasi di Parung, Bogor. Luasnya 200 hektare. Sudah dalam proses land clearing,” katanya.
Rasanya Wawan, yang tadinya orang media, kini layak mendapat julukan Wawan Domba. Ia menjadi contoh orang yang berhasil mentransformasi sektor yang selama ini dianggap tradisional menjadi industri modern. (*)