HARIAN DISWAY - Fenomena doom spending mulai mencuri perhatian di kalangan generasi muda. Istilah itu merujuk pada kebiasaan belanja impulsif.
Sebagai respons terhadap stres, kecemasan, hingga tekanan hidup sehari-hari. Alih-alih menabung, sebagian Gen Z justru memilih “checkout”. Sebagai cara cepat meredakan emosi.
Tren itu ramai dibahas di media sosial. Banyak anak muda secara terbuka mengaku melakukan pembelian tanpa rencana.
Mulai dari barang kecil hingga produk dengan harga cukup tinggi. Motivasinya sederhana: mencari rasa senang dalam waktu singkat.
BACA JUGA:Self Reward Sebagai Cara Seru Merayakan Pencapaian Diri Sendiri
BACA JUGA:Self Reward dan Healing, Sama-sama Self Care, Beda Tujuan
Dalam praktiknya, doom spending sering terjadi saat seseorang merasa lelah secara mental. Tekanan pekerjaan, masalah pribadi, hingga paparan berita negatif. Itu semua membuat kondisi emosional tidak stabil. Belanja kemudian menjadi pelarian instan.
Ilustrasi Pelanggan Belanja Online-ist-
“Setiap kali stres, rasanya ingin beli sesuatu. Walaupun tidak terlalu butuh,” ujar salah seorang pengguna media sosial dalam unggahannya.
Pengamat perilaku konsumen menilai, fenomena itu berkaitan erat dengan kemudahan akses belanja digital.
Diskon, flash sale, hingga fitur one-click checkout membuat proses pembelian menjadi sangat cepat dan minim pertimbangan.
BACA JUGA:Self Reward sebagai Penunjang Produktivitas Gen Z
BACA JUGA:Self-Love Bukan Selfish, 5 Cara Rawat Diri tanpa Perlu Boros
Di sisi lain, budaya self-reward juga ikut mendorong tren itu. Memberi hadiah untuk diri sendiri setelah bekerja keras memang bukan hal yang salah. Namun, batas antara apresiasi diri dan perilaku konsumtif sering kali menjadi kabur.
Psikolog menyebut doom spending dapat memberikan efek “bahagia sesaat”. Saat membeli barang, otak melepaskan dopamin yang memicu rasa senang. Sayangnya, efek itu tidak bertahan lama. Setelah itu, muncul perasaan bersalah. Bahkan penyesalan.