Meskipun menghadapi tekanan globalisasi, budaya lokal tidak sepenuhnya hilang. Justru, dalam beberapa kasus, budaya lokal mampu beradaptasi dan berkembang mengikuti zaman.
Globalisasi membuka peluang bagi budaya lokal untuk dikenal di tingkat internasional. Berbagai karya seni tradisional, kerajinan, hingga kuliner khas daerah kini dapat dipromosikan secara global. Yakni melalui teknologi digital.
BACA JUGA:Jazz Gunung Ijen 2024, Tampilkan Unsur Budaya Lokal Banyuwangi
BACA JUGA:Ardian Purwoseputro: Membawa Kopi Blitar dan Budaya Lokal ke Panggung Dunia
Proses akulturasi antara budaya lokal dan global juga melahirkan inovasi baru. Perpaduan unsur tradisional dengan sentuhan modern menciptakan bentuk budaya yang lebih relevan bagi generasi saat ini.
Peran pemerintah, komunitas, dan pendidikan menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal agar tetap hidup. Dan tidak kehilangan identitasnya di tengah arus globalisasi.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan globalisasi, tren fashion di Indonesia mulai bertransformasi. -PNW Production-Pexels
Jika dilihat dari pengaruhnya, globalisasi memang cenderung lebih dominan dalam membentuk gaya hidup modern masyarakat. Hal itu terlihat dari kuatnya pengaruh budaya populer global dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, budaya lokal tidak sepenuhnya kalah. Itu tetap menjadi identitas utama yang melekat pada masyarakat. Sehingga keberadaannya harus terus dipertahankan melalui berbagai upaya pelestarian.
BACA JUGA:Lindungi Budaya Lokal, Kemenkum Jatim Inventarisasi KIK dan WBTB di Magetan
Para ahli menyebut bahwa solusi terbaik bukan memilih salah satu. Melainkan menggabungkan keduanya melalui konsep “glokalisasi”. Yakni mengadaptasi budaya global tanpa meninggalkan nilai lokal. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, UINSA.