HARIAN DISWAY - Perkembangan globalisasi semakin pesat. Membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk budaya.
Arus informasi yang cepat melalui internet dan media sosial membuat batas antarnegara semakin kabur. Sehingga pertukaran budaya terjadi secara masif.
Di satu sisi, fenomena itu membuka peluang bagi publik. Siapa saja bisa mengenal budaya dari berbagai belahan dunia.
Namun, hal itu memunculkan kekhawatiran akan keberlangsungan budaya lokal. Yang kini mulai tergerus oleh pengaruh global.
BACA JUGA:Tantangan dan Peluang Sarjana Perikanan di Era Globalisasi: Menjadi Agen Perubahan
BACA JUGA:Globalisasi Tidak (Akan) Pernah Berakhir
Pertanyaan pun muncul di tengah derasnya globalisasi: apakah budaya lokal masih mampu bertahan atau justru kalah dominan oleh budaya global?
Globalisasi membawa perubahan signifikan dalam gaya hidup masyarakat. Terutama di kalangan generasi muda.
Tren asing dalam musik, fashion, hingga kuliner kini lebih mudah diakses. Cepat menyebar melalui platform digital.
Fenomena itu membuat budaya global sering kali lebih dominan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda yang lebih familiar dengan budaya populer internasional. Akibatnya, mereka justru kurang paham dengan tradisi lokal di daerahnya sendiri.
BACA JUGA:Lindungi Budaya Lokal, Kemenkum Jatim Inventarisasi KIK dan WBTB di Magetan
Globalisasi juga memengaruhi pola pikir dan nilai sosial masyarakat. Perubahan itu terlihat dari pergeseran gaya hidup yang cenderung lebih modern, praktis, dan mengikuti tren global.
Dampaknya, beberapa unsur budaya lokal seperti bahasa daerah, pakaian tradisional, hingga kesenian mulai kehilangan minat. Terutama di kalangan generasi muda.
Budaya Lokal Tetap Bertahan dan Beradaptasi
Para penari reyog cemandi dengan riasan jenaka. Kesenian asal Desa Cemandi, Sidoarjo, tampil dalam Eksotika Bromo 2025 pada hari pertama, 21 Juni 2025.-Guruh D.N.-HARIAN DISWAY