Rasionalisasi Imunisasi bagi Tenaga Kesehatan

Sabtu 18-04-2026,13:06 WIB
Oleh: Dominicus Husada*

KEMATIAN seorang dokter yang diperkirakan akibat penyakit campak di Jawa Barat minggu lalu sangat mengejutkan. Banyak masyarakat yang sudah tahu bahwa penyakit campak itu sangat berbahaya dan sedang merajalela sejak tahun lalu di Indonesia. 

Namun, umumnya orang tidak tahu bahwa campak bisa juga menyerang dewasa dan bahkan menyebabkan kematian. Siapa pun yang terkena campak tentu memiliki kekebalan yang rendah terhadap penyakit tersebut. 

Kekebalan bisa diperoleh dari beberapa cara. Misalnya, pernah mengalami sakit (walaupun tidak bisa diberlakukan untuk banyak penyakit) atau pernah diimunisasi. 

Karena perlindungan utama yang disarankan pada penyakit campak seharusnya berasal dari imunisasi, muncullah pertanyaan, apakah tenaga kesehatan (nakes) perlu menerima imunisasi di usia dewasa?

BACA JUGA:108 Ribu Anak di Jatim Belum Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap, Untari Beri Tiga Strategi

BACA JUGA:Cegah Penyakit Menular pada Anak, Siswa SD-SMP di Surabaya Dapat Imunisasi Gratis

Sesungguhnya imunisasi bagi tenaga kesehatan adalah kelaziman di hampir semua negara di dunia. Lini terdepan dalam urusan penyakit dan nyawa tersebut sangat sering bertemu orang berpenyakit menular dalam pekerjaan sehari-hari. 

Mereka harus menjadi prioritas dalam perlindungan. Kita telah melihat contoh nyata di saat awal munculnya vaksin ketika pandemi. Tenaga kesehatan adalah kelompok pertama yang diimunisasi di Indonesia. 

Imunisasi yang dibutuhkan nakes mencakup semua jenis penyakit yang sudah dan akan dihadapinya ketika menjalani tugas, yang ditularkan dari orang ke orang secara nyata. 

Di Indonesia, hepatitis A dan B, TBC, difteri, pertusis, tetanus, campak, tifus abdominalis, cacar air, demam berdarah, dan influenza adalah penyakit yang sering muncul, ditularkan dari orang ke orang, dan mempunyai vaksin yang sudah beredar di dalam negeri. 

BACA JUGA:PAPDI Perbarui Rekomendasi Jadwal Imunisasi Dewasa, Ini 21 Jenisnya

BACA JUGA:Imunisasi Anak Pasuruan Rendah di 10 Tahun Terakhir, Gus Ipul Targetkan 100 Persen di 2023

Penyakit yang belum bervaksin atau yang tidak lagi dijumpai di usia dewasa atau yang relatif jarang ditemui tentulah tidak menjadi keharusan.    

Nasib nakes di Singapura, Malaysia, dan Thailand tampaknya lebih diperhatikan. Imbauan imunisasi ulangan ataupun pemeriksaan kadar antibodi senantiasa disampaikan. Di negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat hal serupa terjadi. 

Pasti jenis penyakit yang direkomendasikan untuk diberikan vaksinnya bisa berbeda antarnegara. Selain imbauan menjalani imunisasi, di beberapa negara tersebut juga tersedia pemeriksaan antibodi pada penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang kekebalan utamanya ditunjukkan lewat antibodi. 

Kategori :