Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi

Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi

ILUSTRASI Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

PERLAWANAN terhadap imunisasi adalah hambatan nyata dalam pelaksanaan program imunisasi di seluruh dunia. Perlawanan tersebut sudah ada sejak imunisasi kali pertama kali. Dunia mencatat, imunisasi modern dimulai ketika Edward Jenner di Inggris kali pertama melakukan inokulasi pada seorang anak berusia 8 tahun bernama James Phipps dengan menggunakan nanah dari seorang pemerah susu sapi bernama Sarah Nelmes pada 14 Mei 1796. 

Setelah itu, aturan yang lebih mengikat untuk imunisasi terhadap cacar di Inggris muncul pada 1853 melalui The Vaccination Act versi 1853. Pada tahun yang sama muncul pulalah The Anti-Vaccination League sebagai salah satu organisasi antivaksin yang tertua. 

Ketika pada 1867 diperkenalkan The Vaccination Act versi 1867, didirikanlah The Anti-Compulsory Vaccination League pada saat yang hampir sama. Alasan melawan imunisasi pada masa itu relatif seragam. 

Yakni, melawan pelanggaran kebebasan pribadi dan hak orang tua. Di masa itu memang ada pula yang sudah mengutip perihal keamanan vaksin, tetapi, sama dengan hari ini, pada umumnya argumen yang dikemukakan tidak tepat secara sains. 

BACA JUGA:Hantavirus Menular dari Tikus, Belum Ada Vaksin, dan Bisa Sebabkan Kematian

BACA JUGA:Kemenkes Prioritaskan Vaksinasi Campak bagi Tenaga Kesehatan di 14 Provinsi dengan Kasus Tertinggi

Kebebasan individual dijunjung sangat tinggi di negara maju dan bahkan sesekali melewati kewajiban terhadap kepentingan sesama.  

Dari aspek tingkat perlawanan, dikenal ada beberapa kelompok yang sejak dahulu hingga saat ini senantiasa ada. Hal itu mirip dengan kelompok pendukung calon dalam pemilihan kepala daerah. 

Kelompok pertama adalah kelompok yang sangat mendukung vaksin dan imunisasi. Tingkat perlawanan kelompok itu relatif nol atau sangat rendah. Sekalipun tidak menyulitkan, dan malah sangat mendukung, kelompok tersebut tidak bisa ditinggalkan. 

Kebutuhan kelompok tetap perlu diakomodasi sehingga tidak terjadi pembalikan di masa selanjutnya. Banyak kegiatan bahkan bisa dilakukan bersama dengan mereka. 

BACA JUGA:Cegah Kanker Serviks, Pemkot Masifkan Vaksinasi HPV

BACA JUGA:Perlukah Vaksinasi Influenza?

Di ujung yang diametral ada kelompok ketiga yang merupakan kelompok yang sangat menentang imunisasi dengan beragam alasan dan latar belakang. Praktis tidak satu pun vaksin bisa diterima kelompok itu. 

Kelompok garis keras tersebut pada umumnya sukar menerima penjelasan dari pihak lain serta relatif tidak menggunakan landasan sains dalam hampir semua keputusan dan argumen. Mengurus kelompok tersebut sangat menguras energi dan sumber daya, sedangkan hasilnya belum tentu ada. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: