Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi
ILUSTRASI Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Sekalipun tidak bisa mutlak ditinggalkan, biasanya kelompok ketiga bukan merupakan prioritas, sesuai dengan situasi dan kondisi pemerintah dan jajaran kesehatan, terutama di tahun-tahun belakangan ini.
Kelompok kedua merupakan kelompok terbesar. Mereka adalah ”floating mass” yang memerlukan bimbingan dan penjelasan yang sederhana, masuk akal, dan dilakukan secara terus-menerus.
BACA JUGA:Waspadai Lonjakan Kasus ISPA, Dinkes Surabaya Gencarkan Vaksin PCV Gratis
BACA JUGA:Terobosan Vaksin Baru Cegah Kanker Payudara: Harapan Masa Depan
Biasanya kelompok itu tidak benar-benar melawan program pemerintah. Sebagian hanya ikut-ikutan, sebagian lagi menggunakan pengalaman pribadi sebagai alasan. Spektrum dalam kelompok kedua itu terdiri atas berbagai tingkat.
Ada yang hanya menerima secara pasif apa pun yang diberikan, ada yang menolak untuk sementara karena ingin berpikir lebih lama, ada yang ingin menunggu bukti yang lebih banyak, serta ada pula yang memberikan alasan ”tidak tahu” ketika ditanya alasan penolakan.
Pendapat lain membagi kelompok kedua menjadi subkelompok ”cautious, relaxed, unconvinced, dan vaccine hesitant” sesuai dengan karakter pribadi masing-masing. Sebenarnya kelompok itu harus menjadi prioritas untuk pendampingan dan sama sekali tidak bisa ditinggalkan.
Banyak dari kelompok itu, bersama kelompok pertama, dapat membantu menjelaskan imunisasi dan mengajak orang yang masih ragu untuk mau diimunisasi. Di mana pun di seluruh dunia, ketiga kelompok selalu ada. Yang berbeda adalah proporsi di antara mereka.
Dalam spektrum perlawanan terhadap vaksin, dikenal istilah ”vaccine hesitancy” atau keraguan menerima vaksin ketika vaksin tersedia. Istilah itu lebih mewakili sebagian besar orang dan notabene banyak berasal dari kelompok kedua.
Sebenarnya, dalam istilah tersebut, makna perlawanan tidak sungguh nyata. Sebab itu, istilah yang digunakan adalah ”keraguan”. Upaya untuk menghadapi keraguan tidak sama dengan upaya menghadapi perlawanan murni. Istilah antivaksin sebenarnya hanya cocok untuk kelompok garis keras.
Berdasar alasan mengapa seseorang ragu menerima vaksin, data yang muncul dari penelitian di banyak negara biasanya satu nada. Alasan utama mereka adalah ketakutan terhadap efek simpang yang terjadi setelah menerima vaksin.
Efek samping tidak mungkin dinihilkan karena semua ciptaan manusia tidak mungkin sempurna. Yang bisa dijanjikan adalah efek samping itu dibuat seringan mungkin. Hal itu diawasi secara ketat sejak calon vaksin masih berada di tingkat laboratorium hingga ketika izin edar sudah didapat.
Jika menyebabkan kematian atau kecacatan, niscaya tidak akan ada izin edar bagi vaksin tersebut. Efek samping paling sering ditemukan hanya di tingkat ringan atau kadang tingkat sedang. Dari segi jenis keluhan, yang mendominasi adalah panas dan nyeri.
Hal itu relatif mudah diatasi dengan makin banyaknya obat antidemam di pasar komersial. Biasanya tenaga kesehatan yang melakukan imunisasi akan memberikan bekal obat antidemam bagi penerima imunisasi. Obat antidemam pasti juga berfungsi sebagai antinyeri.
Penelitian selama pandemi (Kemenkes RI dan UNICEF, 2020, pada 116 ribu responden) menemukan bahwa alasan berikutnya yang membuat orang tidak menerima imunisasi adalah tidak yakin akan manfaat, tidak memercayai vaksin, serta pertimbangan agama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: