Perlukah Vaksinasi Influenza?
ILUSTRASI Perlukah Vaksinasi Influenza?.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
MENINGKATNYA kasus superflu belakangan ini di seluruh dunia mengingatkan orang akan upaya pencegahan penyakit tersebut. Virus influenza memang memiliki antivirus seperti oseltamivir. Namun, kemampuan obat tersebut tidak luar biasa.
Memang virus lebih sulit untuk dilawan jika dibandingkan dengan bakteri yang berukuran jauh lebih besar. Antibiotika di dunia ini jauh lebih maju daripada antivirus. Kondisi itu membuat kita harus memprioritaskan upaya pencegahan.
Pencegahan umum adalah perilaku hidup sehat sebagaimana penyakit lain. Upaya yang sudah dilakukan selama pandemi Covid-19 seperti menggunakan masker, menjauhi kerumunan, selalu mencuci tangan, dan menutup mulut dengan punggung lengan ketika batuk adalah beberapa contoh yang juga efektif pada influenza.
BACA JUGA:Influenza A H3N2 Subclade K di Jatim Terkendali, Khofifah Minta Warga Tetap Waspada
BACA JUGA:Waspada Influenza Tipe A, Kenali Gejala Dan Cara Pencegahannya
Selain hal tersebut, penyakit influenza mempunyai vaksin. Pada semua penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, sudah pasti peran pencegahan vaksin cukup signifikan. Satu dua vaksin bahkan sanggup melindungi mendekati 100 persen.
Identifikasi virus influenza baru terjadi tahun 1933 oleh tiga ilmuwan Inggris yang menyimpulkan bahwa penyebab penyakit tersebut adalah virus dan bukan bakteri.
Sebelumnya, sejak 1892, Richard Pfeiffer dari Jerman memperkirakan penyebab influenza adalah bakteri, berdasar temuannya dari cairan hidung penderita. Sejak virus influenza diketahui, dimulai pulalah upaya menemukan vaksin yang dipelopori, antara lain, oleh Angkatan Darat Amerika Serikat.
BACA JUGA:Barbie Hsu Meninggal Karena Pneumonia Akibat Influenza, Pakar Sebut Ada Kejanggalan
BACA JUGA:Wamenkes Tinjau Cek Kesehatan dan Vaksinasi Gratis Karyawan SKT Sampoerna di Surabaya
Thomas Francis dan Jonas Salk akhirnya bisa mengembangkan vaksin influenza dan digunakan secara luas di sekitar 1945. Salk adalah juga orang yang menemukan vaksin polio injeksi.
Vaksin influenza generasi awal hanya terdiri dari influenza A. Ada dua virus influenza yang beredar di dunia, yakni A dan B. Pandemi influenza pada 1918 disebabkan virus A. Pandemi terjadi dalam dua gelombang.
Jika pada gelombang pertama angka penularan tinggi tetapi dengan angka kematian yang rendah, gelombang kedua ternyata jauh lebih mematikan. Pada periode tersebut diperkirakan 500 juta orang terkena influenza dengan kematian melampaui 50 juta.
Bandingkan dengan angka kematian Covid-19 yang secara resmi berada di kisaran 7 juta orang. Menjelang tahun 1945, baru disadari bahwa influenza B perlu diakomodasi dan saat itu lahirlah vaksin baru yang mengandung dua jenis virus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: