PELUNCURAN Kampung Pancasila di RW 02 Krembangan Bhakti, Kelurahan Kemayoran, Surabaya, pada Kamis, 16 April 2026 menjadi momentum penting yang patut diapresiasi.
Program itu tidak hanya diluncurkan secara seremonial. Tetapi juga serentak. Menjangkau 31 kecamatan dan 153 kelurahan.
Sebuah langkah besar yang mencerminkan semangat kolektif warga Surabaya. Khususnya dalam merawat nilai-nilai kebangsaan.
Namun, di balik kemegahan itu, terdapat pertanyaan yang layak direnungkan: di mana posisi perempuan dalam dinamika Kampung Pancasila hari ini?
BACA JUGA:Kampung Pancasila, Wajah Humanis Surabaya Menuju Kota Global
BACA JUGA:Dari Kisah Nyata ke Simbol Kebhinekaan, Kampung Na Willa Ditetapkan Jadi Kampung Pancasila
Jika menengok ke belakang, nilai-nilai toleransi sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Surabaya. Pada dekade 1960-an, misalnya, terdapat kisah sederhana namun sarat makna.
Tentang dua perempuan: Farida dan Linda. Keduanya hidup berdampingan dalam perbedaan keyakinan. Tetapi tetap menjalin hubungan yang hangat dan saling menghormati.
Saat Farida berdoa, Linda menunggu dengan penuh pengertian. Kisah nostalgia itu difilmkan dengan judul Na Willa.
Itu menjadi cermin bagaimana toleransi tumbuh dari relasi sehari-hari. Bahkan dari ruang domestik yang sering kali diisi oleh perempuan.
BACA JUGA:Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Ajak Untag Surabaya Kolaborasi Lewat Beasiswa dan Kampung Pancasila
BACA JUGA:Eri Bentuk Satgas Kampung Pancasila Se-Surabaya
Hari ini, semangat tersebut masih terasa. Tetapi tidak bisa dipungkiri mulai menghadapi tantangan. Modernisasi dan percepatan kehidupan kota. Itu membawa perubahan dalam pola interaksi sosial.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban, sikap individualistik perlahan mengikis semangat guyub dan rukun. Yang dahulu menjadi ciri khas masyarakat.
Dalam situasi seperti itu, perempuan justru berada di garis depan—sekaligus dalam posisi yang tidak mudah.