Perempuan menghadapi apa yang sering disebut sebagai double burden atau beban ganda. Di satu sisi, mereka dituntut aktif dalam ruang publik. Terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
BACA JUGA:Ulasan Film Na Willa: Memotret Isu Diskriminasi, Pernikahan Dini, dan Parenting dari Kacamata Anak
Seperti RT, RW, hingga berbagai program pemberdayaan. Namun di sisi lain, tanggung jawab domestik tetap melekat kuat.
Mengurus rumah tangga, mendidik anak, hingga menjaga keharmonisan keluarga. Itu semua masih dianggap sebagai “kodrat” yang tidak bisa ditinggalkan.
Lebih dari itu, terdapat pula invisible burden atau beban tak kasatmata. Itu persoalan yang kerap luput dari perhatian.
Beban tersebut berupa tanggung jawab mental dan emosional: merencanakan kebutuhan keluarga, mengingat berbagai hal kecil namun penting, hingga memastikan semuanya berjalan dengan baik.
BACA JUGA:8 Pemain Film Na Willa, Luisa Adreena Pimpin Geng Krembangan
BACA JUGA:Sinopsis Film Na Willa, Melihat Dunia dari Mata Gadis Mungil di Era 1960-an
Beban itu tidak terlihat. Tetapi menguras energi dan pikiran. Perempuan menjalani semua itu dengan kesabaran. Bahkan sering kali tanpa pengakuan yang setara.
Dalam konteks Kampung Pancasila, peran perempuan menjadi semakin kompleks sekaligus strategis. Mereka tidak hanya hadir sebagai pelengkap.
Melainkan sebagai penggerak utama dalam berbagai aspek kehidupan kampung. Mulai dari lingkungan, sosial, ekonomi, hingga budaya.
Perempuan menjadi jembatan antara keluarga dan masyarakat. Antara nilai-nilai domestik dan kepentingan publik.
BACA JUGA:Mbangunrejo Art Festival 2025, Berbagai Pentas Seni Tampilkan Wajah Baru Kampung Bangunrejo
BACA JUGA:Peluncuran Buku Seribu Gagasan Omah Ndhuwur, Hadirkan Perspektif Kritis tentang Kampung Bangunrejo
Namun, peran strategis itu menuntut dukungan yang nyata. Tidak cukup hanya mengandalkan semangat atau dedikasi pribadi.