Perempuan perlu ruang, kesempatan, dan pengakuan yang setara agar dapat berkontribusi secara optimal. Tanpa itu, Kampung Pancasila berisiko menjadi sekadar simbol. Tanpa kekuatan transformasi yang sesungguhnya.
Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi momen refleksi yang tepat. Semangat Kartini bukan hanya tentang emansipasi dalam arti sempit.
Tetapi juga tentang keberanian perempuan untuk mengambil peran dalam perubahan sosial. Dalam konteks Kampung Pancasila, semangat itu dapat dimaknai sebagai kemampuan perempuan untuk mengelola peran domestik. Sekaligus berkontribusi aktif dalam pembangunan masyarakat.
BACA JUGA:Jeritan Kampung Dupak Bangunrejo Lewat Drama Monolog Sangkan Paran: Jantung Tanpa Hati
BACA JUGA:Gerakan Kebudayaan Kampung Bangunrejo
Namun, penting untuk disadari bahwa tanggung jawab itu tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada perempuan.
Mewujudkan Kampung Pancasila yang ideal membutuhkan kerja sama semua pihak: laki-laki dan perempuan, pemerintah dan masyarakat, tua dan muda. Perempuan memang memiliki peran penting. Tetapi mereka tidak boleh berjalan sendiri.
Kampung Pancasila sejatinya adalah ruang bersama. Ia akan tumbuh kuat jika dibangun atas dasar kolaborasi, saling menghargai, dan pembagian peran yang adil.
Dalam kerangka itu, perempuan bukan hanya pelengkap. Melainkan mitra sejajar dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, toleran, dan berdaya.
BACA JUGA:Kampung Kreatif Dupak Bangunrejo Meriahkan Peringatan Kemerdekaan RI dengan Sound Horeg dan Dongkrek
BACA JUGA:Rayakan Imlek 2026, Kampung Tambak Bayan Sajikan Penampilan Tari Lintas Budaya
Pada akhirnya, pertanyaan tentang peranan perempuan dalam Kampung Pancasila bukan hanya soal tantangan. Tetapi juga soal harapan.
Harapan bahwa perempuan tidak lagi dipandang sebagai pihak yang menanggung beban ganda. Melainkan sebagai agen perubahan yang diberdayakan.
Harapan bahwa nilai-nilai toleransi yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat terus hidup, tidak hanya dalam cerita masa lalu. Tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Dan dari sanalah, Kampung Pancasila menemukan maknanya yang paling hakiki: sebagai gerakan bersama untuk membangun Indonesia dari ruang-ruang terkecil.
Dengan perempuan sebagai salah satu pilar utamanya. (*)