Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

Jumat 24-04-2026,19:47 WIB
Oleh: Andria Saptyasari*

Dalam konteks tersebut, yang tampak dominan adalah dorongan untuk menjaga keseragaman.

Nama baik harus dijaga. Anak tidak boleh mencoreng keluarga. Harmoni harus tetap terlihat utuh.

Namun, di sisi lain, ruang untuk percakapan terbuka justru menyempit. Isu sensitif seperti pelecehan seksual tidak benar-benar dibicarakan. Ia dihindari. Ditutup. Atau, dialihkan.

Akibatnya, keluarga tidak lagi menjadi ruang aman untuk berdialog. Ia berubah menjadi ruang kontrol.

Tempat di mana yang penting bukan apa yang benar, tetapi apa yang terlihat baik.

LOGIKA ”JANGAN BIKIN MALU”

Kondisi itu makin diperkuat oleh konteks budaya kita.

Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kolektivistik, harmoni sosial sering ditempatkan di atas segalanya. Ada dorongan kuat untuk tidak mempermalukan kelompok. Tidak membuka aib ke ruang publik.

Dalam banyak situasi, nilai itu memang menjaga kohesi sosial.

Namun, dalam kasus seperti ini, ia bisa menjadi masalah.

Sebab, ketika ”menjaga nama baik” menjadi prioritas utama, keberanian untuk berpihak kepada korban menjadi lemah. Keadilan menjadi nomor dua.

Yang penting tidak lagi menyelesaikan masalah, tetapi memastikan masalah itu tidak terlihat.

KETIKA KORBAN MEMILIH DIAM

Dampaknya tidak kecil.

Korban yang melihat respons seperti itu akan berpikir dua kali untuk berbicara. Mereka belajar bahwa membuka suara bisa berujung pada penilaian, bukan dukungan.

Lingkungan yang seharusnya aman justru terasa mengancam –bukan hanya karena peristiwa yang dialami, melainkan karena respons sosial yang diterima.

Kategori :