Menilik Program Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Unair (1): Sejenak Berhenti di Nepal van Java

Menilik Program Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Unair (1): Sejenak Berhenti di Nepal van Java

SEJENAK Berhenti di Nepal van Java.-Suryanto untuk Harian Disway-

ADA KALANYA orang bekerja terlalu lama sampai lupa cara berhenti. Bukan berhenti dari tanggung jawab sebagai ASN. Bukan berhenti dari tridarma perguruan tinggi. Bukan pula berhenti dari tugas melayani mahasiswa, menulis laporan, mengurus administrasi, atau mengejar target kinerja.

Namun, berhenti sejenak untuk menarik napas, yaitu healing.

Untuk tertawa bersama. Untuk melihat langit biru. Untuk merasakan angin gunung. Untuk menatap ladang terasering yang menghijau di lereng Gunung Sumbing. Dan, untuk mengingat satu hal sederhana: manusia bukan mesin akademik.

Itulah yang terasa pada Sabtu, 9 Mei 2026, dalam Program Kesehatan Mental dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga. Kegiatannya tampak sederhana. Jalan-jalan bersama. Naik jip. Menikmati desa wisata. Makan bersama. Berfoto. Tertawa.

BACA JUGA:Tingkatkan Keamanan Pelanggan, Grab Gandeng Fakultas Psikologi UI

Namun, maknanya tidak sesederhana itu.

Setelah hampir setahun berada dalam ritme kerja yang padat, jeda semacam itu menjadi penting. Kampus tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar bekerja. Kampus juga membutuhkan orang-orang yang tetap sehat, tetap gembira, dan tetap punya energi untuk saling menyapa.

Perjalanan dimulai dari Kota Magelang. Kota yang dikenal dengan sejarah panjang, udara sejuk, dan tentu saja kupat tahunya. Dari kota itu, rombongan bergerak menggunakan tiga bus menuju base camp jip Wisata Kaliangkrik.

Di base camp, suasana mulai hidup. Peserta berpindah ke jip sesuai nomor yang telah ditentukan panitia. Ada yang langsung mengangkat kamera. Ada yang sibuk memastikan tasnya aman. Ada yang tampak tenang, tetapi tangannya tidak pernah lepas dari pegangan jip. Ada pula bapak-bapak yang masih sempat ngopi sambil menunggu kendaraan berangkat.

Begitu jip mulai berjalan, suasana berubah. Jalan mulai menanjak. Berkelok di antara tebing dan lembah. Kadang sempit. Kadang tiba-tiba terbuka dengan pemandangan lembah dan bukit yang membuat mata ingin tinggal lebih lama.

Di kanan-kiri jalan, ladang sayur mengikuti lekuk kontur tanah. Terasering tampak seperti garis-garis hijau yang disusun sabar oleh tangan petani. Kubis, kol, bawang prei, kentang, wortel, bawang merah, dan tanaman sayur lain tumbuh di tanah miring. Bagi orang kota, medan seperti itu mungkin terasa ekstrem. Bagi warga lereng Sumbing, itulah ruang hidup sehari-hari.

Pemberhentian pertama adalah Silancur Highland. Kawasan wisata di lereng Gunung Sumbing itu berada pada ketinggian sekitar 1.330 meter di atas permukaan laut. Dari tempat itu, pemandangan pegunungan terasa lapang. Udara lebih dingin. Tubuh yang biasanya lama duduk di ruang kerja tiba-tiba diajak berdiri, berjalan, dan memandang jauh.

Setelah dari Silancur Highland, perjalanan berlanjut menuju Kebon Sayur Sukomakmur di Dusun Nampan. Untuk mencapai titik yang lebih tinggi, rombongan harus berganti kendaraan. Bukan lagi jip. Melainkan, ojek lokal yang dikelola warga setempat.

Ini bukan ojek biasa di jalan datar kota. Ini ojek lereng gunung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: