Menilik Program Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Unair (1): Sejenak Berhenti di Nepal van Java

Menilik Program Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Unair (1): Sejenak Berhenti di Nepal van Java

SEJENAK Berhenti di Nepal van Java.-Suryanto untuk Harian Disway-

Jalannya benar-benar menanjak. Sempit. Tajam. Tubuh otomatis condong ke depan. Tangan berpegangan lebih erat. Mata kadang menatap jalan, kadang mencuri pandang ke lembah di bawah.

Menegangkan? Ya.

Menarik? Lebih dari itu.

Di ketinggian sekitar 1.664 meter di atas permukaan laut, Kebon Sayur Sukomakmur menyajikan pemandangan yang berbeda. Hamparan lahan pertanian tampak bertingkat mengikuti lereng. Tebing curam, ladang sayur, rumah warga, dan kabut tipis pegunungan menyatu menjadi lanskap yang sulit ditemukan di ruang kerja kampus.

Sekitar tiga puluh menit rombongan menikmati puncak itu. Setelah itu, perjalanan turun kembali menuju kawasan makan di Desa Nampan. Lokasinya tidak jauh dari Nepal van Java, destinasi yang menjadi magnet utama perjalanan hari itu.

Nepal van Java berada di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Dusun itu berada di lereng Gunung Sumbing. Rumah-rumah warganya tersusun bertingkat mengikuti kontur bukit. Dari kejauhan, permukiman tersebut tampak seperti menempel di lereng. Berundak. Berwarna. Bertumpuk. 

Di belakangnya, Gunung Sumbing berdiri gagah. Julukan Nepal van Java bukan karena dusun itu ingin menjadi Nepal. Namun, karena lanskapnya mengingatkan orang pada permukiman pegunungan di kawasan Himalaya.

Yang menarik, Dusun Butuh awalnya bukan panggung wisata. Ia adalah kampung warga. Kampung petani. Kampung lereng gunung yang hidup dari tanah, sayur, dan jalur pendakian Sumbing. Lalu, media sosial datang. Foto-foto rumah berundak menyebar. Orang-orang penasaran. Wisatawan berdatangan. Desa, yang dulu terutama menjadi ruang hidup warga, pelan-pelan menjadi destinasi.

Di sinilah pelajaran pentingnya.

Nepal van Java tidak hanya menjual pemandangan. Ia menunjukkan bagaimana desa belajar mengelola peluang. Pengelolaan wisata tampak melibatkan pemerintah desa, kelompok sadar wisata, BUMDes, warga, pengemudi jip, pengemudi ojek, pedagang kecil, hingga pemilik homestay. Ada alur. Ada sistem. Ada pembagian peran.

Warga tidak sekadar menjadi latar belakang foto wisatawan. Mereka ikut menjadi pelaku. Ada yang mengantar wisatawan. Ada yang membuka warung. Ada yang mengelola parkir. Ada yang menyediakan tempat menginap. Ada yang tetap bertani, tetapi kini ladangnya juga menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Desa wisata yang baik memang bukan desa yang kehilangan dirinya karena pariwisata. Desa wisata yang baik adalah desa yang tetap menjadi dirinya, sedangkan warganya ikut memperoleh manfaat dari orang-orang yang datang.

Bagi rombongan Fakultas Psikologi Unair, perjalanan itu memberikan pengalaman lain. Sepanjang jalan, canda tawa menjadi teman. Bukan tawa formal seperti di ruang rapat. Bukan tawa basa-basi dalam acara seremonial. Ini tawa yang lepas. Tawa orang-orang yang selama ini bekerja dalam ritme padat, lalu tiba-tiba diberi kesempatan menjadi manusia biasa.

Ada yang berteriak kecil saat jip berbelok. Ada yang tertawa ketika angin dingin menerpa wajah. Ada yang deg-degan saat naik ojek. Ada yang sibuk mencari sudut foto terbaik. Ada pula yang memilih diam, menikmati bukit, ladang, dan langit yang terasa lebih dekat.

Di situlah makna program kesehatan mental menjadi terasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: