Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

Jumat 24-04-2026,19:47 WIB
Oleh: Andria Saptyasari*

Akibatnya jelas. Fokus terhadap pelaku menjadi kabur. Sementara itu, posisi korban makin tidak terlihat.

Dan, ketika korban tidak lagi menjadi pusat perhatian, di situlah keadilan mulai menjauh.

KOMUNIKASI YANG KEHILANGAN EMPATI

Respons seperti itu sebenarnya bukan tanpa pola.

Dalam banyak situasi krisis, manusia cenderung mencari pihak lain untuk disalahkan agar situasi terasa tetap terkendali. Seperti dijelaskan Fritz Heider, manusia memiliki dorongan untuk membuat dunia terasa logis dan dapat diprediksi.

Salah satu caranya adalah menyederhanakan persoalan –menentukan siapa yang salah secara cepat, bahkan jika itu berarti mengalihkan perhatian dari masalah utama.

BACA JUGA:Momen Bungkam 14 Mahasiswa FH UI Terduga Pelaku Pelecehan Seksual saat Dihadirkan di Hadapan Korban

BACA JUGA:Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswi FH UI di Grup Chat, 16 Orang Disanksi

Di sinilah victim blaming sering muncul.

Bukan selalu karena ketidaktahuan. Tetapi, karena ada kebutuhan psikologis untuk merasa bahwa ”semua ini tidak akan terjadi pada kita”.

Masalahnya, mekanisme itu justru mengorbankan empati.

Alih-alih mendengar, kita menghakimi. Alih-alih memahami, kita menyimpulkan. Alih-alih memvalidasi, kita mencari celah kesalahan.

Empati pun perlahan menghilang, digantikan oleh sikap defensif.

CERMIN KOMUNIKASI KELUARGA

Jika dilihat lebih dalam, fenomena itu tidak berdiri sendiri. Ia adalah refleksi dari bagaimana komunikasi dalam keluarga dibangun.

Dalam kajian komunikasi keluarga, Mary Anne Fitzpatrick menjelaskan adanya dua kecenderungan utama: menjaga keseragaman (conformity orientation) dan membuka ruang percakapan (conversation orientation).

Kategori :