APAKAH saya sebagai manusia yang lahir di tanah Madura masih bisa mengatakan bahwa Madura tidak pernah benar-benar miskin? Atau, bolehkah saya punya pandangan jika pulau kami adalah pulau yang kaya dan yang miskin adalah cara negara memperlakukannya.
Pulau ini menyimpan dua kekuatan besar sekaligus: tembakau sebagai urat ekonomi rakyat dan migas sebagai urat energi negara. Namun, hasil akhirnya justru paradoks: Madura –yang meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep– secara konsisten berada dalam kelompok daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan:
* Sampang: sering menjadi kabupaten termiskin di Jawa Timur (di atas 20 persen).
* Sumenep dan Bangkalan: berkisar 18–20 persen.
* Pamekasan: relatif lebih rendah, tetapi tetap di atas rata-rata provinsi.
BACA JUGA:Garam Madura Menghidupi Dunia, tapi Infus Kita Bergantung pada Mereka
BACA JUGA:Mereduksi Stereotipe Negatif Madura: Agenda Literasi Komunikasi
Bandingkan dengan rata-rata kemiskinan Jawa Timur yang berada di kisaran 10–11 persen. Ini bukan sekadar ketertinggalan. Ini adalah ketimpangan struktural. Energi mengalir keluar, kemiskinan tetap tinggal menetap di tanah tempat saya dilahirkan.
Secara geografis dan ekonomi, Madura bukan wilayah kosong.
Blok migas seperti:
* PT Kangean Energi Indonesia (KEI)
* PT MGA Utama Energi (Sumenep)
* PT HCML (Sumenep dan Sampang)
* PT Medco Energi (Sumenep dan Sampang)