DALAM berbagai teori peradaban, kedaulatan, tata negara, bahkan –politik– untuk skala lebih kecil, kesenian lokal adalah kekuatan pertahanan sebuah bangsa.
Kesenian hadir tidak hanya sebagai ekspresi kegembiraan. Ia bisa menjelma menjadi tools bagi pencerahan alam pikiran, kesadaran berbangsa, bahkan kewaskitaan sebagai sangu sebuah bangsa menghadapi sekian banyak model kondisi zaman yang fluktuatif.
Teater
Teater dinasti hadir menggugat sekian ketidaktepatan di zaman Orde Baru hingga reformasi dengan berbagai lakon: Lautan Jilbab, Negeri Balkadalba, Sengkuni, dan lain-lain.
Cak Nun (Mbah Nun/Emha (Muhammad) Ainun Najib) tidak hanya dalam spektrum syair dan puisi. Ia hadir dengan ratusan buku, seni pertunjukan, seminar, bahkan selalu memendarkan gelombang kesadaran kedaulatan yang bertanggung jawab kepada seluruh elemen bangsa dengan Maiyah ”Jalan Sunyinya”.
BACA JUGA:Dewan Kesenian Tanpa Kebaruan
BACA JUGA:Kota dan Kesenian: Dinamika Estetika dalam Bayang-Bayang Industrialisasi Surabaya
Puluhan ribu, mungkin ratusan ribu, kali bersama Kiai Kanjeng menyapa hati rakyat puluhan tahun. Sejak muda ia wakafkan dirinya untuk kemuliaan siapa pun dan apa pun.
Syair dan Puisi
Rendra sang Burung Merak menyentuh ruang-ruang kesadaran yang tidak banyak orang berani mendatanginya, dengan syairnya, Paman Doblang, pejuang kemuliaan sejati yang menjelang wafatnya tak kesampaian sekadar membeli kijang Innova.
Gus Mus (KH Ahmad Mustofa Bisri) banyak menawarkan otokritik untuk diri sendiri, negara, masyarakat, bahkan dunia, salah satunya dengan puisi Negeri Haha Hihi.
Yang benar-benar membuktikan diri mampu mandhita di antara sekian banyak hiruk pikuk dunia. Beliau memilih jalan yang diyakininya.
Ludruk
Cak Durasim pernah membawakan pemberontakannya terhadap Belanda (baca: penjajah) melalui parikannya dalam ludruk. Yang mengantarkan merasakan siksaan penjara Belanda sebagai perusak integrasi, tetapi menjadi pahlawan bagi kita semua hari ini.
Wayang Kulit