Bagi Reni, hubungan politik itu seperti tabungan. Setiap sapaan, setiap bantuan, setiap kehadiran adalah setoran investasi. Hasilnya? Kepercayaan yang terus berbunga.
Ada pertanyaan menarik dari salah satu penguji. Dr. Windijarto, melempar pertanyaan menggelitik. "Apa enaknya jadi dewan? Sampai tiga periode lagi. Apa resepnya?"
Reni menjawab singkat. "Yang pertama, masuk parpol. Yang kedua, baca disertasi saya!"
Gerrr... Ruangan pecah. Semua tertawa. Itulah Reni. Cerdas dan tahu cara mencairkan suasana.
Kini Reni sudah menyandang gelar doktor. Ibu lima anak itu menulis sebuah "cetak biru" bagi para politisi muda. Kemenangan berulang tidak ditentukan dari keberuntungan atau tebalnya dompet. Pencetak hat-trick itu memiliki strategi sosial yang manusiawi dan berkelanjutan.
Reni percaya bahwa politik bisa sehat. Bisa transaksional dalam arti yang mulia.
Selamat, Doktor Reni!
BACA JUGA:Layang-Layang Reni Astuti Sampai ke Senayan