Menarik Benang Merah Kasus Daycare Jogja dan Ponpes di Pati

Kamis 07-05-2026,13:53 WIB
Oleh: Suryanto*

Belum genap dua minggu kasus daycare di Jogja mengguncang rasa aman orang tua, Pati menyusul dengan kabar yang tak kalah menyedihkan. Disway Jateng melaporkan adanya dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati yang dikaitkan dengan salah satu pondok pesantren di Pati. Dua kasus itu memang tidak sama, tetapi keduanya memperlihatkan satu garis merah yang sama: anak berada di bawah kuasa orang dewasa karena dititipkan.

Orang tua menitipkan anak bukan karena ingin lepas tangan, melainkan karena percaya ada lembaga yang mampu mengasuh dan melindungi. Jika kepercayaan itu justru berubah menjadi luka, maka yang harus diperiksa bukan hanya pelaku, melainkan juga sistem pengasuhan yang membuat anak rentan.

Yang paling menyayat dari kasus seperti ini adalah runtuhnya rasa percaya. Orang tua mengantar anak ke pesantren biasanya dengan hati campur aduk. Ada bangga karena anak mau belajar agama. Ada harapan bahwa anak kelak akan tumbuh mandiri. Ada cemas karena anak akan jauh dari rumah. Tetapi semua kecemasan itu dikalahkan oleh satu keyakinan: di pesantren, anak akan dijaga.

Karena itu, ketika muncul dugaan kekerasan seksual di ruang yang dipercaya sebagai tempat aman, rasa luka orang tua menjadi semakin berlapis. Mereka bukan hanya bertanya tentang apa yang terjadi; mereka juga bertanya: bagaimana mungkin anak yang dititipkan untuk dilindungi justru bisa berada dalam situasi rentan?

Tentu, kasus Pati tidak boleh dipakai untuk menghakimi semua pesantren. Banyak pesantren tetap menjadi rumah pendidikan yang baik. Banyak kiai, bu nyai, ustaz, ustazah, dan pengasuh menjaga santri dengan tulus. Bahkan, pesantren telah melahirkan banyak anak bangsa yang berilmu, mandiri, dan berakhlak.

Namun, justru karena pesantren adalah lembaga penting seperti halnya lembaga pendidikan lainnya, ia tidak boleh menjadi benteng tertutup. Ia harus terbuka terhadap standar, evaluasi, dan pengawasan. Nama baik pesantren tidak dijaga dengan menutup luka. Nama baik dijaga dengan keberanian memperbaiki sistem.

BACA JUGA:Fail Fast, Learn Faster: Cara Mencetak Engineer yang Berani Naik Level

BACA JUGA:Ketika Kesehatan Sosial Bangsa Sedang Sakit, Siapa Dokternya?

Dalam psikologi, rasa aman adalah fondasi tumbuh kembang anak. Bahkan, rasa aman menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia menurut teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Anak belajar bukan hanya dari pelajaran, tetapi juga dari suasana yang ia rasakan setiap hari. Jika lingkungan aman, anak lebih mudah percaya, terbuka, dan berkembang. Jika lingkungan menakutkan, anak bisa belajar diam, menutup diri, bahkan merasa bahwa suaranya tidak penting.

Di pesantren, santri tidak hanya belajar. Sebagaimana halnya boarding school, para santri tinggal, makan, tidur, beribadah, dan berinteraksi hampir sepanjang hari dalam lingkungan yang sama. Karena itu, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan; ia juga lembaga pengasuhan. Tanggung jawabnya bukan hanya mengajarkan kitab, tetapi juga memastikan anak tidak dilecehkan, tidak dirundung, tidak diintimidasi, dan tidak menjadi korban penyalahgunaan kuasa.

Relasi pengasuh dan santri adalah relasi kuasa. Pengasuh memiliki otoritas, santri berada dalam posisi bergantung. Pengasuh memberi arahan, santri cenderung patuh. Apalagi dalam kultur pesantren, penghormatan kepada guru sangat dijunjung tinggi. Penghormatan itu baik, tetapi tanpa batas dan pengawasan, ia bisa berubah menjadi ketakutan.

Anak sering sulit membedakan mana disiplin dan mana kekerasan, mana nasihat dan mana tekanan, mana kedekatan pengasuhan dan mana pelanggaran batas. Karena itu, pola asuh yang sehat bukan pola asuh yang hanya membuat anak patuh; pola asuh yang sehat membuat anak merasa aman untuk berbicara.

Santri boleh hormat kepada guru, tetapi tetap harus berani berkata tidak ketika merasa tidak nyaman. Santri boleh disiplin, tetapi tidak boleh kehilangan hak untuk dilindungi. Santri boleh tinggal jauh dari orang tua, tetapi tidak boleh merasa sendirian ketika menghadapi ancaman.

BACA JUGA:'Umroh' Rasa Ampel: Mengalihkan Aliran Devisa ke Kantong UMKM Surabaya

BACA JUGA:Di Tengah Ketidakpastian Global, Kota Bisa Apa?

Maka setiap pesantren perlu memiliki standar pengasuhan yang jelas:

Kategori :