Negara-negara pun bergerak dengan logika yang sama: bukan karena pemimpinnya tidak berempati, melainkan karena tekanan domestik, inflasi, pengangguran, serta stabilitas politik jauh lebih terasa dan lebih mendesak daripada perang yang berlangsung di belahan bumi lain.
Pak Igak benar bahwa mobilisasi publik tetap terjadi, bahkan meningkat. Gerakan solidaritas digital untuk Gaza, demonstrasi lintas negara, jutaan unggahan tagar perlawanan, semua itu nyata.
Namun, saya ingin mengajukan satu pertanyaan: berapa lama? Gelombang solidaritas yang mengguncang dunia itu, di mana intensitasnya sekarang? Algoritma telah beralih. Perhatian publik telah bergerak.
Perang masih berlangsung, tetapi trending topic sudah berganti. Itulah paradoks yang ingin saya tunjukkan: transformasi empati yang Pak Igak gambarkan itu nyata, tetapi ia juga rentan terhadap siklus yang sama, naik cepat, lalu meredup.
Bukan berarti generasi muda tidak peduli. Bukan berarti aktivisme digital tidak bermakna. Tetapi, ”berpartisipasi secara digital” tidak otomatis berarti ”terlibat secara berkelanjutan”. Dan di sinilah saya masih bersikeras: anestesi global bekerja bukan pada level niat, melainkan pada level perhatian.
Orang bisa berniat baik, tetapi tetap kehilangan kapasitas untuk terus terlibat, karena hidup terus berjalan, kepentingan pribadi terus menuntut, dan kekerasan terus berulang hingga menjadi latar belakang yang tidak lagi mengejutkan.
Yang saya harapkan dari debat ini bukan untuk memenangkan istilah. ”Anestesi global” dan ”transformasi empati” mungkin bukan dua hal yang saling meniadakan. Keduanya bisa terjadi secara bersamaan, pada individu yang sama, di hari yang sama.
Seseorang bisa mengunggah solidaritas di pagi hari, lalu lupa di sore hari karena tenggelam dalam pekerjaan. Tetapi, jika kita ingin merancang respons kebijakan yang efektif, baik di tingkat UNESCO maupun di tingkat diplomasi Indonesia, kita harus jujur bahwa anestesi itu ada, dan ia lebih dalam dari sekadar persoalan medium komunikasi.
Transformasi empati tanpa mengatasi anestesi global hanya akan menghasilkan gelombang solidaritas yang datang dan pergi, tanpa mengubah struktur yang membuat perang terus berlangsung. (*)
*) Mohammad Ayub Mirdad, dosen hubungan internasional, FISIP, Universitas Airlangga, dan koordinator Lab Centre for Strategic and Global Studies (CSGS).