TULISAN Igak Satriya Wibawa yang berjudul Anestesi Global atau Transformasi Empati? di Radar Banjarmasin, 16 April 2026, adalah respons yang saya sambut dengan hangat sekaligus dengan rasa ingin berdebat secara sehat.
Sebagai kolega yang saya hormati, Pak Igak mengajukan pertanyaan yang tepat: apakah yang kita lihat hari ini adalah matinya empati atau justru transformasinya?
Namun, saya ingin mempertahankan argumen awal saya, bahwa istilah ”anestesi global” bukan sekadar metafora retorik, melainkan menggambarkan mekanisme psikologis dan sosial yang nyata, yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan narasi transformasi empati digital.
Saya memulai dari yang paling dekat: pengalaman saya sendiri.
Tahun 2008, pagi hari, saya berangkat ke universitas dengan mobil. Sekitar 500 meter dari tempat saya berhenti, sebuah bom meledak di dalam sebuah shuttle bus polisi. Di dalam bus itu ada ibu-ibu polisi yang sedang membawa bayi dan anak-anak kecil mereka untuk dititipkan di daycare tempat bekerja. Semuanya tewas.
Saya melihat kepala yang terpisah dari tubuh. Saya melihat potongan tangan berserakan di aspal. Lalu, saya melanjutkan perjalanan ke kampus, masuk kelas, dan kuliah seperti biasa.
Bukan karena saya tidak berempati. Bukan karena saya tidak merasa ngeri.
Melainkan, karena itu sudah biasa. Hampir setiap hari ada ledakan. Kekerasan bukan lagi kejutan. Ia sudah menjadi tekstur kehidupan sehari-hari. Dan, pikiran manusia, untuk bertahan, belajar menyesuaikan ambang batas keterkejutannya.
Itu bukan keputusan sadar. Itu mekanisme bertahan hidup. Saya tidak berhenti menjadi manusia yang berperasaan. Saya hanya belajar, tanpa sadar, bahwa untuk tetap berfungsi, saya tidak boleh membiarkan setiap ledakan meruntuhkan saya sepenuhnya.
Itulah anestesi: bukan matinya rasa, melainkan tubuh dan pikiran yang secara otomatis menurunkan dosis kepedihan agar kita tetap bisa berdiri dan berjalan.
Itulah yang saya maksud dengan anestesi global. Bukan hilangnya empati, melainkan terbatasnya kapasitas manusia untuk terus-menerus berada dalam kondisi waspada emosional penuh terhadap penderitaan yang tidak berhenti.
Para psikolog menyebutnya compassion fatigue, kelelahan belas kasih. Ia bukan pilihan moral, melainkan respons adaptif yang tak terhindarkan.
Dan, mekanisme yang sama bekerja di skala yang lebih besar (global). Ketika perang kali pertama pecah di Gaza pada Oktober 2023, dunia berguncang. Jutaan orang turun ke jalan. Media sosial banjir solidaritas.
Namun, coba tanya hari ini: seberapa sering perang itu masih menjadi topik percakapan di meja makan? Apakah karena orang sudah tidak peduli? Tidak. Melainkan karena kepentingan pribadi terus menuntut perhatian: harga minyak naik, rute perdagangan terganggu, tagihan listrik membengkak, dan secara perlahan, kekerasan yang jauh itu mundur ke latar belakang.
Orang tidak berhenti peduli; mereka hanya tidak lagi punya kapasitas untuk terus-menerus membawa beban itu.