DUNIA mungkin sedang berdiri di ambang tragedi paling berbahaya dalam sejarah: ketika hegemon tua panik menghadapi kekuatan baru, diplomasi berubah menjadi kecurigaan, dan perang perlahan dianggap sebagai jalan mempertahankan dominasi.
Mei 2026, di hadapan Donald Trump di Great Hall of the People, Beijing, Xi Jinping kembali menghidupkan istilah yang selama ribuan tahun menghantui sejarah politik dunia: The Thucydides Trap.
Dengan nada tenang tetapi penuh pesan politik, Xi memperingatkan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok dapat masuk ke ”tempat yang sangat berbahaya” apabila Washington terus berusaha menghambat kebangkitan Beijing, terutama dalam isu Taiwan dan dominasi strategis di Asia-Pasifik (Sands, 2026).
Pernyataan itu bukan sekadar kutipan sejarah Yunani kuno.
Xi sebenarnya sedang berbicara tentang kecemasan Amerika terhadap kehilangan supremasi globalnya sendiri.
Istilah Thucydides Trap berasal dari karya monumental Thucydides, seorang jenderal sekaligus sejarawan Athena yang menulis History of the Peloponnesian War. Buku itu mendokumentasikan perang besar antara Athena dan Sparta pada 431–404 SM –konflik yang kemudian dianggap sebagai salah satu perang paling menentukan dalam sejarah peradaban Barat.
Berbeda dengan penulis sejarah pada zamannya, Thucydides tidak menjelaskan perang sebagai kehendak dewa atau takdir mistis. Ia melihat perang sebagai hasil dari ambisi politik, ketakutan, perebutan kekuasaan, dan perubahan keseimbangan geopolitik. Karena itu, banyak ilmuwan politik modern yang menganggap Thucydides sebagai pelopor realisme dalam hubungan internasional.
Dalam karyanya, Thucydides menjelaskan bahwa akar utama perang bukan sekadar konflik kecil antarnegara kota Yunani, melainkan kebangkitan Athena yang sangat cepat setelah kemenangan atas Persia.
Athena berkembang menjadi kekuatan ekonomi, maritim, dan militer baru yang makin dominan di Yunani. Pengaruhnya meluas, perdagangan berkembang, dan armada lautnya menguasai kawasan Laut Aegea.
Sebaliknya, Sparta adalah hegemon lama.
Selama bertahun-tahun, Sparta dikenal sebagai kekuatan militer paling kuat di Yunani. Namun, kebangkitan Athena mulai mengancam posisi tersebut. Yang paling berbahaya bukan hanya pertumbuhan kekuatan Athena, melainkan ketakutan Sparta terhadap kemungkinan kehilangan dominasi.
Di situlah Thucydides menulis kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal: ”It was the rise of Athens and the fear that this instilled in Sparta that made war inevitable.”
Dalam terjemahan bebas: ”Kebangkitan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya di Sparta membuat perang menjadi tak terhindarkan.”
Kalimat itu kemudian dipopulerkan kembali oleh Graham Allison, profesor Harvard, melalui bukunya, Destined for War (2017). Allison meneliti enam belas kasus dalam sejarah ketika kekuatan baru menantang hegemon lama, dan menemukan bahwa dua belas di antaranya berakhir dengan perang.
Baginya, hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok hari ini menunjukkan pola yang sama.