GAMBARAN cerah membayang di industri gula tahun ini. Paling tidak, itu terlihat dari awal giling di pabrik gula milik PT SGN atau PTPN Group. Satu dari sebelas pabrik gula yang sudah mulai giling adalah PG Ngadirejo, Kediri.
Lho, kok bisa?
Ya. Hampir semua indikator menunjukkan awal giling tahun ini jauh lebih baik daripada tahun lalu. Mulai jumlah pasokan tebu yang digiling, keluaran gula yang digiling, hingga hablur alias gula kristal putih yang bisa dihasilkan lebih awal.
Perbaikan terlihat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Baik pada sisi produktivitas tebu maupun pasokan bahan baku. Sampai dengan delapan hari giling, ada 45.018 ton tebu yang digiling di PG Ngadirejo. Itu naik 20,6 persen daripada tahun 2025 yang sebesar 37.319 ton.
BACA JUGA:Gula Rembesan
BACA JUGA:Gula Kakao
Yang menarik, kenaikan itu didorong oleh meningkatnya kontribusi tebu rakyat yang menjadi penopang utama pasokan pabrik. Produktivitas tebu juga mengalami peningkatan dari rata-rata 79,68 ton per hektare menjadi 82,80 ton per hektare.
Tentu ini baru gambaran dari satu pabrik gula. Namun, karena PG Ngadirejo menjadi salah satu PG unggulan di PTPN Group, indikator tersebut memberikan harapan awal tentang peningkatan produktivitas tebu-gula di tahun ini. Apalagi, pemerintah tak akan impor gula lagi.
Makanya, wajah cerah dan bening tergambar di wajah para pimpinan pabrik gula, kepala kluster, dan kepala regional. Mereka itulah garda terdepan penanggung jawab baik-buruknya kinerja pabrik gula di lingkungan BUMN gula itu.
Gula di awal giling glowing –meminjam istilah anak kekinian. Wajah mereka juga terlihat glowing karena punya gambaran padhang alias terang. Tak tertekan seperti awal giling tahun yang lewat. Pasokan tebu yang cukup di awal menjadi indikator petani tebu juga bersemangat.
BACA JUGA:Joglo Gula
BACA JUGA:Gula Swatata
Tahun lalu, karena pasokan tebu di awal giling kurang, operasional pabrik menjadi on-off. Jam berhenti tinggi. Tebang tebu di awal giling terganggu curah hujan yang tinggi. Ditambah guyuran rembesan gula impor di pasar tradisional.
Para petani mengeluh. Pabrik gula tak efisien. Sampai bulan ketiga, gula PG dan petani tak terserap pasar. Harga molase atau tetes yang bisa menjadi tambahan pendapatan petani dan PG juga hancur. Itu karena di awal giling ada kebijakan pembebasan kuota impor etanol.
Sebelum tahun ini adalah mendung hitam industri gula. Berbalikan dengan tahun sebelumnya lagi yang menjadi tahun penuh senyum petani tebu dan industri gula. Banyak petani yang mencatat keuntungan besar dari hasil budi daya tebu.