Akankah tahun ini menjadi tahun cerah bagi petani dan industri gula nasional? Semoga demikian. Apalagi, sejak akhir tahun lalu, Kementerian Pertanian menggelontorkan triliunan rupiah untuk program bongkar ratoon (ratun). Salah satu upaya memperbaiki produktivitas tebu rakyat.
BACA JUGA:Swa-gula Nusantara
BACA JUGA:Sepur Lori Pabrik Gula (PG) Pagotan, Madiun
Program bongkar ratun sebenarnya bukan sekadar proyek teknis pertanian. Itu adalah upaya menyelamatkan masa depan industri gula nasional. Problem klasik pergulaan kita adalah rendahnya produktivitas tebu rakyat akibat tanaman keprasan yang dipelihara terlalu lama.
Banyak petani yang mempertahankan ratun sampai lebih dari empat atau lima kali karena keterbatasan modal. Akibatnya, produktivitas turun, rendemen jeblok, dan kualitas tebu memburuk. Ratun adalah tebu yang tumbuh dari hasil keprasan pascatebang.
Nah, ketika pemerintah mulai serius membantu pembiayaan bongkar ratun, menyediakan bibit unggul, memperbaiki irigasi, hingga mendorong mekanisasi, harapan baru mulai tumbuh di kebun-kebun tebu rakyat. Petani kembali yakin bahwa menanam tebu masih menjanjikan masa depan.
Bicara industri gula memang tak cukup hanya bicara pabrik gula. Jantung utamanya di tangan petani. Tanpa petani yang bergairah menanam tebu, cerobong asap pabrik gula hanya akan menjadi monumen nostalgia masa lalu. Mesin-mesin modern sekalipun tidak akan berarti jika tidak ada tebu yang masuk ke mesin giling.
Karena itu, ekosistem gula sesungguhnya adalah hubungan saling menopang antara banyak pihak. Mulai petani, pabrik gula, pemerintah, lembaga keuangan, hingga pasar. Semua harus bergerak dalam irama yang sama. Ketika salah satu terganggu, seluruh rantai industri ikut limbung.
Seperti sampean tahu, kita terlalu sering menyaksikan paradoks industri gula nasional. Di satu sisi, Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai negeri gula besar dunia. Pada masa kolonial, wilayah Nusantara pernah menjadi salah satu pengekspor gula terbesar dunia.
Pabrik-pabrik gula berdiri megah di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Kota-kota tumbuh karena denyut ekonomi gula. Rel kereta dibangun untuk mengangkut tebu. Pelabuhan hidup karena ekspor gula.
Setelah puluhan tahun merdeka, Indonesia justru menjadi negara pengimpor gula. Ironis memang. Negeri yang tanahnya subur, sinar mataharinya melimpah, dan tradisi pergulaannya panjang justru bergantung pada gula dari luar negeri.
Karena itu, upaya membangun kembali industri gula sejatinya bukan sekadar agenda ekonomi. Itu juga menyangkut harga diri bangsa. Menyangkut kemampuan negara menjaga ketahanan pangan strategisnya sendiri.
Kita semua juga tahu bahwa gula bukan hanya komoditas konsumsi rumah tangga. Ia terkait dengan industri makanan-minuman, energi, hingga stabilitas sosial-ekonomi masyarakat.
Di tengah situasi geopolitik dunia yang makin tak pasti, ketahanan pangan menjadi isu sangat penting. Negara-negara besar sekarang mulai menahan ekspor pangannya sendiri ketika krisis terjadi. Maka, ketergantungan pada impor adalah kerentanan.
Nah, ketika ada tanda cerah di awal giling tahun ini, harapan publik ikut tumbuh. Tentu perjalanan masih panjang. Tantangan tetap besar. Mulai perubahan iklim, alih fungsi lahan, biaya produksi tinggi, hingga praktik perdagangan yang kadang tidak berpihak kepada petani dan industri nasional.
Namun, setidaknya, optimisme mulai terlihat. Itu penting. Sebab, industri gula tidak bisa dibangun hanya dengan mesin dan modal. Ia membutuhkan semangat kolektif. Membutuhkan keyakinan bahwa negeri ini mampu bangkit kembali menjadi bangsa gula besar seperti dulu.