Mengapa Warga Desa Harus Cemas saat Rupiah Tembus Rp18.013 per Dolar AS Hari Ini?

Kamis 04-06-2026,09:51 WIB
Reporter : Mohamad Nur Khotib
Editor : Mohamad Nur Khotib

BACA JUGA:Rupiah Terus Melemah, Ekonom Sebut Investor Bingung Koordinasi Kebijakan Pemerintah

BACA JUGA:Daftar Kenaikan Harga Steam Deck OLED, Tembus Belasan Juta Rupiah untuk Varian 512GB dan 1 TB

Kedua, pakan ternak. Industri pakan ternak nasional sangat bergantung pada impor jagung dan bungkil kedelai. Lonjakan dolar akan langsung mengerek harga pakan di tingkat peternak lokal, menekan margin keuntungan mereka yang sudah tipis.

Meskipun pemerintah menyiapkan bantalan berupa subsidi pupuk puluhan triliun rupiah, angka Rp18.013 yang sangat tinggi ini akan memberi beban berat pada APBN dan memperlebar kelangkaan di jalur nonsubsidi.

2. Efek Inflasi Impor Menembus Dapur Desa

Fakta bahwa warga desa adalah konsumen akhir dari berbagai produk olahan berbasis impor memicu terjadinya imported inflation (inflasi yang dipicu barang impor). 

Logika bahwa hanya orang yang suka ke luar negeri yang pusing, terbantahkan oleh rantai pasok kebutuhan pokok.

BACA JUGA:Marwah Rupiah

BACA JUGA:BI Gencarkan Intervensi untuk Stabilkan Rupiah, Perry: Cadangan Devisa Lebih dari Cukup

Indonesia adalah salah satu importir gandum terbesar di dunia. Melemahnya rupiah ke level Rp18.013 akan langsung mendongkrak biaya impor gandum, yang berujung pada kenaikan harga tepung terigu, mi instan, hingga gorengan maupun komoditas konsumsi massal warga desa.

Kemudian, beban impor BBM. Sebagai negara net importer minyak bumi, Pertamina harus membayar pasokan minyak mentah menggunakan dolar AS. 

Jika pelemahan rupiah ini tidak segera ditahan, beban subsidi energi akan membengkak dan risiko penyesuaian harga BBM ke depan mengancam ongkos transportasi logistik dari kota ke desa.

BACA JUGA:Rupiah Terus Melemah, Gubernur BI: Akan Menguat Kembali pada Juli 2026

BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Melemah, Budi Sulistyono Kanang: Warning Serius untuk Negeri

3. Tekanan pada Sektor UMKM Pedesaan

Banyak warga desa kini mengandalkan sektor UMKM, mulai dari industri kerajinan, konveksi rumahan, hingga pengolahan makanan ringan. 

Ketika harga bahan baku pendukung seperti benang impor, plastik kemasan, hingga mesin produksi naik akibat dolar yang perkasa, pelaku UMKM desa dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat desa yang sedang turun, atau menanggung kerugian.

Artinya, angka Rp18.013 bukan sekadar angka di papan perdagangan saham yang hanya digubris oleh para pelaku institusi finansial atau mereka yang gemar bepergian ke luar negeri. 

Kategori :