BACA JUGA:Rupiah Terus Melemah, Ekonom Sebut Investor Bingung Koordinasi Kebijakan Pemerintah
BACA JUGA:Daftar Kenaikan Harga Steam Deck OLED, Tembus Belasan Juta Rupiah untuk Varian 512GB dan 1 TB
Kedua, pakan ternak. Industri pakan ternak nasional sangat bergantung pada impor jagung dan bungkil kedelai. Lonjakan dolar akan langsung mengerek harga pakan di tingkat peternak lokal, menekan margin keuntungan mereka yang sudah tipis.
Meskipun pemerintah menyiapkan bantalan berupa subsidi pupuk puluhan triliun rupiah, angka Rp18.013 yang sangat tinggi ini akan memberi beban berat pada APBN dan memperlebar kelangkaan di jalur nonsubsidi.
2. Efek Inflasi Impor Menembus Dapur Desa
Fakta bahwa warga desa adalah konsumen akhir dari berbagai produk olahan berbasis impor memicu terjadinya imported inflation (inflasi yang dipicu barang impor).
Logika bahwa hanya orang yang suka ke luar negeri yang pusing, terbantahkan oleh rantai pasok kebutuhan pokok.
BACA JUGA:Marwah Rupiah
BACA JUGA:BI Gencarkan Intervensi untuk Stabilkan Rupiah, Perry: Cadangan Devisa Lebih dari Cukup
Indonesia adalah salah satu importir gandum terbesar di dunia. Melemahnya rupiah ke level Rp18.013 akan langsung mendongkrak biaya impor gandum, yang berujung pada kenaikan harga tepung terigu, mi instan, hingga gorengan maupun komoditas konsumsi massal warga desa.
Kemudian, beban impor BBM. Sebagai negara net importer minyak bumi, Pertamina harus membayar pasokan minyak mentah menggunakan dolar AS.
Jika pelemahan rupiah ini tidak segera ditahan, beban subsidi energi akan membengkak dan risiko penyesuaian harga BBM ke depan mengancam ongkos transportasi logistik dari kota ke desa.
BACA JUGA:Rupiah Terus Melemah, Gubernur BI: Akan Menguat Kembali pada Juli 2026
BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Melemah, Budi Sulistyono Kanang: Warning Serius untuk Negeri
3. Tekanan pada Sektor UMKM Pedesaan
Banyak warga desa kini mengandalkan sektor UMKM, mulai dari industri kerajinan, konveksi rumahan, hingga pengolahan makanan ringan.
Ketika harga bahan baku pendukung seperti benang impor, plastik kemasan, hingga mesin produksi naik akibat dolar yang perkasa, pelaku UMKM desa dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat desa yang sedang turun, atau menanggung kerugian.
Artinya, angka Rp18.013 bukan sekadar angka di papan perdagangan saham yang hanya digubris oleh para pelaku institusi finansial atau mereka yang gemar bepergian ke luar negeri.