Ironi Harga Telur

Jumat 05-06-2026,05:33 WIB
Reporter : Imron Mawardi
Editor : Yusuf Ridho

Salah satu caranya adalah adanya kebijakan yang berpihak kepada peternak skala kecil-menengah. Peternak kecil-menengah tidak akan mampu bersaing langsung dengan peternak besar. Apalagi jika peternakan besar itu merupakan konglomerasi industri peternakan ayam. 

Saat ini beberapa perusahaan konglomerasi industri itu juga memiliki peternakan ayam petelur. Padahal, mereka juga menguasai industri hulunya: day old chicken (anak ayam), pakan ternak, vaksin, dan sebagainya. Skala industrinya tentu sangat besar.

Itu menyebabkan konglomerasi tersebut bisa menjadi price maker. Pembentuk harga. Peternak kecil-menangah tidak bisa terlibat dalam penentuan harga pakan dan telur. Jika peternak besar bisa memiliki stok pakan ternak dalam jumlah besar, tidak dengan peternak kecil menangah. Itu menyebabkan perubahan kondisi perekonomian langsung berdampak pada peternak kecil-menangah. 

Peternak besar seperti itulah yang bakal bisa bertahan. Bahkan, saat mereka tidak melakukan aksi apa pun untuk mengintervensi pasar. Sebab, modal mereka cukup besar dan mereka bisa menentukan harga pasar karena memiliki market share yang besar.

Dalam hukum ekonomi, saat harga telur jatuh dan harga pakan naik, itu akan menyebabkan banyak peternak gulung tikar. Dampaknya, produksi telur menurun. Dengan asumsi permintaan stabil, harga akan naik dengan sendirianya. Pengusaha besar pun memperoleh keuntungan yang besar. 

Selain itu, pemerintah bisa membantu peternak kecil menengah dengan kebijakan. Misalnya, program MBG banyak menggunakan lauk telur. Itu akan menyebabkan permintaan telur meningkat karena kebutuhan MBG sangat besar. 

Sebenarnya pemerintah bisa saja menetapkan harga pembelian terendah untuk melindungi peternak. Namun, beda dengan padi yang ketahanannya tinggi, ketahanan telur cukup pendek. Telur mudah rusak sehingga harus segera dikonsumsi. 

Kebijakan harga pembelian terendah kemungkinan tidak efektif menggeser permintaan atau penawaran telur ayam yang mengakibatkan harganya jatuh seperti saat ini. Wallahu a’lam. (*)

*) Imron Mawardi adalah guru besar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.

 

 

Kategori :