SENIN LALU ratusan peternak ayam petelur melakukan aksi protes di Blitar. Bukan dengan unjuk rasa, melainkan dengan aksi membagi-bagikan telur kepada masyarakat. Jumlahnya mencapai lebih dari 1 juta telur atau 62,5 ton. Aksi tersebut digelar untuk memprotes jatuhnya harga telur di tengah kenaikan harga pakan.
Saat ini harga telur di tingkat peternak hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu. Padahal, harga pakan ayam naik signifikan. Harga komponen bahan pakan ternak naik dari 30 persen hingga 100 persen. Harga pakan jadi naik dari Rp365 ribu per sak 50 kg menjadi Rp395 ribu atau naik sekitar 8,2 persen.
Untuk ayam pada fase layer (produksi) rata-rata membutuhkan pakan 120 gram per hari. Berarti, untuk 1.000 ekor ayam, dibutuhkan 120 kg. Dengan harga per kg Rp7.900, berarti kebutuhan pakan Rp948 ribu per hari.
Dengan tingkat produksi 80 persen, dihasilkan sekitar 750 telur dengan bobot sekitar 42 kg. Dengan harga Rp20 ribu per kg, dihasilkan Rp840 ribu per hari.
BACA JUGA:Kemendag Siapkan Intervensi Atasi Anjloknya Harga Telur dan Daging Ayam
BACA JUGA:Harga Telur Anjlok di Bawah HPP, PPRN Desak Pemerintah Tambah Menu Telur di Program MBGJadi, tanpa memperhitungkan biaya tenaga kerja dan operasional, dari setiap seribu ekor ayam petelur, peternak akan rugi Rp108 ribu per hari. Bisa dibayangkan kerugian peternak kelas menengah yang memiliki 10 ribu ekor. Kerugiannya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Menurut perhitungan asosiasi peternak ayam petelur, harga pokok produksi (HPP) per kg telur mencapai Rp23 ribu. Sementara harga telur di tingkat peternak hanya Rp20 ribu. Jadi, setiap kg telur, peternak rugi Rp3 ribu.
Bagi para peternak, rendahnya harga telur sebenarnya biasa saja. Namun, dalam dua bulan ini, harga komponen pakan ayam terus naik. Apalagi yang impor. Padahal, kontribusi bahan impor itu mencapai sekitar 35 persen komponen biaya.
Harga bungkil kedelai (BKK), misalnya, naik dari Rp7.000 menjadi Rp9.000. Sementara harga tepung daging naik Rp3.000 dari Rp9.000 ke Rp12.000. Bahkan, kenaikan harga nutrisi premiks mencapai 100 persen.
BACA JUGA:Pakan Ternak Tergantung Impor, Harga Telur Tembus Rp 32 Ribu
Yang menarik, bahan nonimpor, seperti dedak, juga naik signifikan. Mencapai sekitar 25 persen, yaitu dari Rp4.200-an per kg menjadi Rp5.400. Padahal, komposisi dedak dan jagung bisa mencapai 65 persen bahan pakan ternak.
Perlu Perlindungan
Kejadian anomali harga telur itu menjadi ironi bagi peternak kecil-menengah. Sebab, ketahanan usaha mereka sangat rendah. Guncangan harga telur dan pakan ternak membuat mereka kelimpungan.
Modal peternak kecil-menengah sangat terbatas. Mereka mengandalkan hasil penjualan telur hari ini untuk membeli pakan ayam untuk besok. Begitu harga telur jatuh dan harga pakan naik, tidak hanya keuntungan yang menipis, tapi membuat usaha peternakan ayam merugi. Kerugian jutaan rupiah per hari untuk masa yang belum diketahui membuat mereka sulit untuk bertahan.
Di sinilah, peternak kecil menengah perlu memperoleh perlindungan. Perlu ada afirmasi untuk mereka sehingga guncangan harga telur dan pakan ayam tidak membuat usaha mereka hancur.