Bertemu Mun’im Sirry, Berdiskusi tentang Relasi Agama

Jumat 05-06-2026,02:03 WIB
Oleh: M. Turhan Yani & Bagong Suyanto*

Padahal, sejarah sebetulnya telah banyak mengajarkan bahwa konflik dan polemik hanyalah salah satu warna dalam kanvas sejarah yang panjang. Ada narasi koeksistensi yang jauh lebih kaya tetapi sering kali terabaikan oleh memori kolektif umat beragama.

Ada sebuah film yang menggambarkan dengan baik bagaimana relasi Islam dan Kristen bermula, yakni film Kingdom of Heaven. Film itu menggambarkan bagaimana perjumpaan antara muslim dan kristiani di masa lampau tidak selalu diwarnai dengan permusuhan karena sikap bijak para pemimpinnya. 

Sejarah mencatat adanya ruang-ruang perjumpaan dan toleransi yang dalam antara umat Islam dan Kristen. Namun, dalam kedamaian antarumat yang berbeda itu, selalu saja ada orang-orang yang anti-toleransi dan memilih jalan berperang untuk menaklukkan yang lain.

Dalam diskusi terungkap dan disepakati bahwa narasi damai sangatlah krusial agar kita tidak terjebak dalam romantisme dan egoisme yang penuh dengan sentimen negatif, baik berupa kecemasan akan islamisasi maupun kristenisasi. 

Fanatisme yang berlebihan adalah faktor yang kerap kali menjadi pemicu munculnya konflik antarumat yang berkepanjangan hingga sekarang. Di sinilah pentingnya penekanan bagi semua pemeluk agama untuk mengedepankan toleransi (tasamuh) dan moderasi beragama agar terwujud hidup bersama (live together) yang harmoni.

Terbuka

Menurut Mun’im Sirry, kitab suci agama sesungguhnya selalu saja ada dan diwarnai dengan bahasan tentang kekerasan. Bahkan, terkadang dalam skala yang benar-benar memiriskan hati. Untuk itu, Mun’im Sirry mengajak seluruh umat akan lebih baik jika bersedia melakukan tafsir ulang secara inklusif. 

Klaim atas kebenaran sebuah agama tidak boleh dijadikan pembenaran untuk menganggap umat agama lain sebagai musuh atau kelompok yang sesat secara mutlak. Melalui diskusi yang terbuka dan sikap bijak, kesediaan untuk melakukan tafsir ulang niscaya akan mendorong kita untuk terus mencari titik temu teologis dan menghargai keyakinan orang lain. 

Menurut Mun’im Sirry, dialog teologis sangat urgen karena tiga alasan utama. 

Pertama, keterbukaan untuk belajar, karena Islam dan Kristen sesungguhnya memiliki ajaran mendalam yang terbuka untuk dipelajari guna memperkaya wawasan spiritual. 

Kedua, fenomena global ketika interaksi antaragama di era modern adalah keniscayaan dan dialog adalah alat untuk merawat perdamaian dunia. 

Ketiga, menggali makna terdalam karena melalui diskusi yang jujur dan terbuka, kesalahpahaman doktrinal seperti pemahaman keliru terhadap agama lain akan dapat diluruskan.

Kami yang hadir sepakat bahwa sikap beragama yang serbakaku, eksklusif, dan dogmatis sesungguhnya adalah sumber benih-benih konflik yang tidak perlu. Dalam beragama, kita seyogianya bersikap lebih rileks, inklusif, humanis, dan kontekstual. 

Seperti dikatakan Mun’im Sirry, esensi dari kehadiran agama adalah membawa kemaslahatan, keadilan, dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, tidak dapat diterima dengan alasan apa pun apabila seseorang melakukan kekerasan dan sejenisnya atas nama agama. (*) 

*) Muhammad Turhan Yani  adalah guru besar dan kepala LPPM Universitas Negeri Surabaya.

*) Bagong Suyanto adalah guru besar sosiologi ekonomi, FISIP, Universitas Airlangga.

Kategori :