Bertemu Mun’im Sirry, Berdiskusi tentang Relasi Agama

Jumat 05-06-2026,02:03 WIB
Oleh: M. Turhan Yani & Bagong Suyanto*

REUNI kecil antara Mun’im Sirry dan sejumlah kolega digelar Kamis, 4 Juni 2026, di sebuah rumah di Malang. Hadir dalam pertemuan itu, Dahlan Iskan dari Disway, Prof Nur Ali dari UIN Malang, Prof Syamsul Arifin dari UMM, Drajat Tri Kartono dari UNS, Muhammad Turhan Yani dan Andhega Wijaya dari Unesa, Bagong Suyanto dari FISIP Unair, dan beberapa teman sejumlah kampus di Malang. 

Pertemuan bersifat informal. Santai-santai saja. Kami melepas kangen karena lama tidak bertemu dengan Mun’im Sirry. Dahlan Iskan mengusulkan kami sedikit berdiskusi seputar bidang keahlian Mun’im Sirry untuk mengisi pertemuan singkat, tetapi sarat makna.

Mun’im Sirry adalah seorang cendekiawan muslim progresif yang kini menjadi salah seorang diaspora di Amerika Serikat. Ia kini mengajar di Departemen Teologi, Universitas Notre Dame, Amerika Serikat, yang dikenal dengan keahliannya dalam kajian Al-Qur’an, hermeneutika, dan hubungan Islam-Kristen. Cendekiawan muslim yang lahir di Sumenep, Madura, itu menamatkan pendidikan pesantren di TMI Al-Amin, Sumenep (1983–1990).

Meraih gelar sarjana di Fakultas Syariah, Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan (1990–1996), kemudian mendapatkan beasiswa Fulbright untuk melanjutkan studi magister di Universitas California, Los Angeles (UCLA) dan meraih gelar doktor di Universitas Chicago (2012). 

Perbedaan dan Ketegangan

Sebagai dosen di University of Notre Dame di Indiana, AS, Mun’im Sirry dikenal memiliki pemikiran yang jernih dan kritis terhadap relasi Islam dan Kristen. Mun’im Sirry adalah satu-satunya dosen muslim yang mengajar di salah satu kampus teologi dan studi agama Katolik terbaik di dunia. 

Departemen Teologi Notre Dame secara rutin masuk jajaran program studi agama dan teologi terbaik di dunia versi QS World Rankings. Sebagai universitas riset Katolik terkemuka, identitas spiritual dan nilai-nilai pelayanan masyarakat sangat melekat dalam kurikulum yang dikembangkan di Notre Dame. 

Yang menarik, seperti dituturkan Mun’im Sirry, meski kampus ia mengajar merupakan universitas keagamaan, tetapi dalam proses pembelajaran yang dikembangkan, tidak tertutup kemungkinan untuk dikembangkan diskusi-diskusi yang kritis soal keimanan. 

Selama mengajar, Mun’im Sirry menolak narasi konflik yang dominan dengan menggarisbawahi pentingnya koeksistensi, pemahaman kritis terhadap literatur keagamaan, serta dialog teologis yang bertujuan membangun perdamaian antarumat beragama.

Masyarakat, menurut Mun’im Sirry, secara sederhana bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Pertama, masyarakat yang berkeyakinan bahwa seseorang bisa diselamatkan karena ia muslim atau karena memeluk agama lain. Kedua, masyarakat yang berkeyakinan bahwa seseorang bisa diselamatkan meski ia muslim atau memeluk agama lain. 

Pemilahan keyakinan itu menunjukkan bahwa ada kelompok masyarakat yang keukeuh pada keyakinannya bahwa hanya satu agama yang benar dan menyelamatkan. 

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sekarang mulai muncul kelompok masyarakat yang meyakini kebenaran dan kebaikan universal dari agama apa pun, tidak harus meyakini sebuah agama. Kelompok itu yakin bahwa kebaikan dan kebenaran universallah yang menentukan seseorang akan diselamatkan atau tidak.

Bagi Mun’im Sirry sendiri, perbedaan teologis antara Islam dan Kristen sesungguhnya bukanlah alasan untuk terus berseberangan dan memelihara konflik. Sebaliknya, perbedaan tersebut harus menjadi momentum untuk saling mengenal (ta’aruf) dan bekerja sama dalam menciptakan dunia yang lebih damai dan toleran. 

Gagasan yang ditawarkan Mun’im Sirry itu ibarat adalah oasis pemikiran yang pro-toleransi di tengah munculnya konflik global yang dipicu perbedaan agama. 

Dalam pemikiran yang dikembangkan Mun’im Sirry, relasi antara Islam dan Kristen selama ini kerap direduksi sebagai relasi yang selalu diwarnai perbedaan dan ketegangan, penaklukan, hingga Perang Salib. 

Kategori :