Dalam kaitan dengan prinsip ”berkesadaran”, anak-anak harus menyadari pentingnya pendidikan untuk merancang masa depan yang lebih baik. Pembelajaran mendalam juga menekankan pentingnya anak-anak memperoleh materi yang lebih kontekstual.
Pada konteks itulah, mendikdasmen mengenalkan prinsip: less but more. Prinsip itu menekankan bahwa boleh jadi materi pelajaran yang diajarkan guru tidak terlampau banyak, tetapi yang penting anak-anak memiliki pengalaman lebih banyak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial di dunia konkret-nyata. Dengan demikian, anak-anak akan memperoleh pengalaman belajar tentang makna kehidupan.
Sebagai bagian implementasi pendekatan pembelajaran mendalam, pengenalan beragam permainan tradisional sangat penting untuk anak-anak. Permainan tradisional dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk memitigasi potensi mewabahnya generasi cemas.
Permainan tradisional penting untuk melatih kemampuan motorik dan kognitif anak. Melalui permainan tradisional, anak-anak juga memperoleh pengalaman berinteraksi sosial dengan bertemu fisik secara langsung.
Menurut Susan Pinker dalam The Village Effect: How Face to Face Contact Can Make Us Healthier, Happier, and Smarter (2014), interaksi tatap muka secara psikologi sangat penting untuk memperoleh kebahagiaan, kesehatan, ketahanan mental, kecerdasan, bahkan umur panjang. Berinteraksi dengan bertatap muka secara langsung juga merupakan kebutuhan biologis yang sangat penting.
Susan Pinker menyatakan, berinteraksi dengan orang lain akan memicu pelepasan hormon dan neurotransmitter yang dapat meredakan stres, membantu pemecahan masalah, dan menguatkan kekebalan tubuh. Susan Pinker juga menegaskan bahwa komunikasi digital atau media sosial pasti tidak mampu menggantikan koneksi fisik yang mengaktifkan hormon dan sistem saraf kita.
Pertemuan fisik di kalangan anak-anak juga sangat penting untuk menginternalisasi nilai-nilai multikulturalisme. Melalui penjumpaan fisik itulah, anak-anak seolah lupa dengan perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan agama yang acap kali menjadi jarak dalam pergaulan.
Karena itu, tugas guru adalah memberikan sebanyak-banyaknya pengalaman yang lebih konkret dan nyata kepada anak-anak selama proses pembelajaran di sekolah.
Bersama Memitigasi
Sementara permainan berbasis internet dengan memanfaatkan beragam platform digital menjadikan anak-anak serasa teralienasi dari dunia nyata. Hal itu karena anak-anak lebih banyak bermain game dan berinteraksi dengan temannya di dunia maya.
Dampaknya, fisik anak-anak kurang bergerak disebabkan lebih banyak duduk di kursi, bahkan berbaring di ranjang tempat tidur bersama gawainya.
Dampak lain anak-anak yang kecanduan gawai adalah munculnya beberapa gangguan fisik, terutama penglihatan, pendengaran, dan obesitas. Pertemanan virtual juga tidak sepenuhnya mampu menggantikan aspek fisikal dari permainan fisik di dunia nyata.
Koneksi pertemanan virtual justru membawa keresahan alias kecemasan. Sebab, anak-anak dipaksa menerima konten-konten virtual yang kurang sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Akibatnya, anak-anak akan hidup dalam alam ilusi alias imajinasi.
Padahal, anak-anak hidup di alam yang nyata dengan tantangan kehidupan yang konkret. Dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang penggunaan permainan berbasis internet melalui gadget atau gawai, sudah seharusnya orang tua dan guru menanamkan kesadaran kepada anak-anak mengenai pentingnya keadaban atau kesalehan digital.
Kemendikdasmen bersama enam kementerian juga telah meneken keputusan tentang pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun.
Semua langkah itu penting untuk memitigasi sekaligus melindungi anak-anak dari dampak jangka panjang penggunaan media digital secara berlebihan. Seluruh elemen bangsa tentu tidak ingin cita-cita mewujudkan generasi emas 2045 berada dalam bayang-bayang ancaman mewabahnya generasi cemas (anxious generation). (*)