Rivalitas
ILUSTRASI Rivalitas.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
MANA yang lebih kuat, Jenderal Soemitro atau Ali Moertopo era dulu? Mana yang lebih kuat, Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin atau Sufmi Dasco Ahmad di era sekarang?
Akhir-akhir ini muncul isu rivalitas orang dekat Presiden Prabowo Subianto. Fokus pun mengarah ke dua orang kepercayaan presiden: Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Sejumlah media pun menyebut persaingan itu lebih kepada rebutan pengaruh siapa yang paling didengar RI-1.
Rivalitas pejabat di ring 1 presiden bukan barang baru. Pernah terjadi di era 1970-an –awal kekuasaan Soeharto. Ada Ali Moertopo yang kala itu menjabat komandan Operasi Khusus (Opsus) dan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Sastrodihardjo. Mereka juga berebut pengaruh, untuk memengaruhi presiden.
Soemitro memimpin lembaga yang paling ditakuti kala itu. Yakni, Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Punya wewenang menangkap semua orang yang dianggap mengganggu pemerintah.
BACA JUGA:Sufmi Dasco Ahmad Terima Tanda Kehormatan Bintang RI Utama dari Presiden Prabowo
BACA JUGA:Sjafrie Sjamsoeddin sang Pemberani
Bahkan, dengan kata tuduhan subversif, lembaga itu bisa menahan seseorang tanpa lewat pengadilan. Bisa membubarkan parpol, ormas, dan media massa.
Lembaga itu dibilang tentara, ya juga. Sebab, personelnya adalah tentara. Bekerja seperti tentara. Bahkan, Soemitro juga merangkap wakil panglima ABRI. Dibilang polisi, Kopkamtib ya juga, karena menangkap orang-orang yang menurut versi mereka melanggar ketertiban.
Kopkamtib sudah dilikuidasi. Tapi, dibayangkan sekarang seperti di AS, ada Kementerian Keamanan Dalam Negeri. Yang putusannya sangat menentukan. Termasuk merekomendasikan siapa yang boleh masuk AS.
Sementara itu, Ali Moertopo menjabat komandan Opsus, lembaga intelijen yang langsung di bawah presiden. Dikenal sebagai jenderal pragmatis, dekat dengan kubu pendukung investasi asing.
Golkar yang menjadi kendaraan politik Orde Baru diarsiteki Ali Moertopo. Ia merancang agar ABRI mendukung Golkar. Di sinilah perbedaannya dengan Soemitro, yang menginginkan militer netral. Soemitro dikenal sebagai jenderal idealis.
Rivalitas mereka dikenal publik sebagai Perang Bintang. Sama-sama jenderal. Puncaknya saat tragedi Malari. Demo mahasiswa 15 Januari 1974, yang berujung kerusuhan. Mahasiswa berdemo dengan isu menolak investasi asing saat kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka.
Kubu Ali Moertopo menuding Soemitro tidak bisa meredam demo dan kerusuhan yang menyebabkan 11 orang tewas. Soemitro dianggap berada di balik kerusuhan karena dekat dengan mahasiswa.
Alhasil, Soemitro, jenderal berbadan subur itu, terjungkal dari kursi pangkopkamtib. Ia dibuang sebagai dubes di Swiss. Soeharto lebih percaya Ali Moertopo yang pragmatis daripada Soemitro yang idealis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: