Rivalitas
ILUSTRASI Rivalitas.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Soeharto menunjuk L.B. Moerdani –orang dekat Ali Moertopo– sebagai pangkopkamtib. Sementara itu, Ali Moertopo makin dipercaya Soeharto, dijadikan menteri penerangan. Semacam kementerian propaganda.
Nah, sekarang apakah rivalitas Dasco vs Sjafrie akan seheboh cerita persaingan Ali Moertopo vs Soemitro Sastrodihardjo. Yang tampak ke permukaan, keduanya masih dalam posisi sama-sama sebagai orang paling dipercaya Prabowo.
Ibaratnya, satu sebagai gas, satunya rem. Sjafrie kini kencang. Gas! Program dan maunya presiden, menhan yang eksekusi. Termasuk sebagai pengendali penertiban kawasan hutan (PKH). Dan, kini juga menggarap pendirian batalyon di seluruh kabupaten/kota.
Prabowo sulit dipisahkan dengan Sjafrie. Sebab, keduanya punya sejarah panjang sejak taruna di Akmil. Terbukti, saat jadi menhan, Prabowo langsung merekrut Sjafrie.
Sementara itu, Dasco adalah operator politik Prabowo. Diposisikan sebagai tangan kanan Prabowo di DPR. Ia menjadi rem peredam gejolak di parlemen dan riak di tengah masyarakat.
Peran itu dilakoni dengan baik oleh Dasco. Memunculkan joke, jabatan Dasco sebenarnya adalah ”ketua umum DPR”. Padahal, di DPR adanya ketua dan wakil ketua. Itu untuk menggambarkan pengaruh Dasco di parlemen.
Walau seperti dua tangan Prabowo, sudah tercium keduanya pernah beda pendapat. Seperti ditulis Tempo, Sjafrie usul pemberlakuan darurat militer saat gelombang demonstrasi Agustus 2025. Tujuannya, TNI punya pintu hukum untuk melakukan penertiban langsung.
Dasco tidak sependapat darurat militer. Kebijakan itu justru bisa membuat presiden jatuh. Darurat militer tak pernah diterapkan.
Momen Dasco ditunjuk sebagai ketua harian Gerindra bisa menjadi awal muncul spekulasi ”rivalitas”. Sebab, awalnya Prabowo ingin mengangkat Sjafrie di posisi tersebut. Prabowo meleleh, dan akhirnya menetapkan Dasco yang lebih berpengalaman di politik praktis.
Dalam ”ontran-ontran” kasus mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, keduanya terlibat aktif. Mereka selalu hadir di setiap pembahasan penting di istana dalam kasus ini. Pengaruh mereka ikut menentukan pemindahan pemeriksaan Febrie dari Polri ke Kejaksaan Agung.
Sekarang semua bergantung ke Prabowo, apakah dua orang kepercayaannya tetap seperti rem dan gas. Sebab, kalau salah penanganan, keduanya malah tidak saling melengkapi. Potensi rivalitas bisa muncul setiap saat. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: