Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi (3)

Sabtu 04-07-2026,06:33 WIB
Oleh: Dominicus Husada*

Yang menggiriskan, kegiatan berbagai kelompok perlawanan tersebut juga menyasar para orang tua yang anaknya bermasalah dan vaksin menjadi tertuduh. Biasanya orang tua dan keluarga akan ”diserang” secara sistematis melalui surel, pesan SMS, dan MMS ataupun jalur komunikasi lain. 

Inti yang disampaikan menyalahkan para orang tua dan keluarga. Kondisi tersebut tentu sangat disesalkan.

Bagaimana dengan para ilmuwan dan ahli vaksin di negara maju? Sejauh ini sangat sedikit ahli vaksin atau ilmuwan yang sungguh bekerja dalam dunia vaksin maupun imunisasi yang bergabung dengan gerakan perlawanan. 

Yang sering ditemukan di pihak perlawanan adalah orang yang pernah terlibat dalam kegiatan atau penelitian yang behubungan dengan imunisasi, tetapi tidak sempat menjadi ilmuwan terkemuka. 

Hal itu membuat isi ilmiah dari gerakan perlawanan menjadi dangkal, tidak akurat, dan mudah dipatahkan. Beberapa nama seperti Andrew Wakefield dan Robert Malone sering disebut, tetapi sesungguhnya mereka bukan ahli imunisasi yang sangat berkompeten. 

Setiap kali sebuah isu diluncurkan, pada saat yang tidak terlalu lama akan keluar pula penjelasan ilmiah dari isu tersebut. Yang benar itu yang bagaimana sebenarnya. Itu isi penjelasan ilmiah tandingan. 

Di AS dan dunia internasional cukup banyak organisasi yang melawan gerakan antivaksin. Secara konsisten, beberapa nama seperti Center for Countering Digital Hate, Voices for Vaccines, Every Child by Two, Shot of Prevention, dan Science Moms perlu disebut di luar lembaga resmi seperti WHO, GAVI, AAP, UNICEF, CDC, dan sebagainya. 

Di jalur pribadi ada Paul Offit, salah seorang ahli vaksin AS paling terkemuka, dan Vaxopedia yang gigih dan konsisten menghadapi kelompok perlawanan. 

Upaya meluruskan disinformasi melalui jalur yang sama yang digunakan untuk menyebarkannya sangat tepat sekalipun reaksi selalu akan terlambat dibandingkan aksi. Sebab itu, berbagai kelompok tersebut juga rajin menyebarkan kebenaran menyangkut vaksin dan imunisasi secara proaktif.

Secara saintifik, bisa ditemukan cukup banyak artikel imiah bernada perlawanan terhadap vaksin di jurnal kedokteran internasional. Memang banyak dari tulisan tersebut yang sudah dibatalkan atau ditarik karena masalah isi yang sulit dipertanggungjawabkan. 

Sekalipun demikian, dampak ikutan dari artikel tersebut sudah terjadi dan bisa sangat merusak. Tulisan di jurnal yang tidak terlalu dikenal biasanya masih lolos hingga saat ini karena memang mekanisme cek dan ricek belum sempurna. 

Artikel ilmiah paling terkenal yang harus disebut adalah tulisan Andrew Wakefield dan kawan-kawan dari Inggris di Jurnal Lancet mengenai penyakit autis yang dituduhkan merupakan akibat dari vaksin MMR. 

Tulisan berdasar pengamatan terhadap pasien di Royal Free Hospital London itu dimuat pada 1998 dengan 13 nama penulis. Pada 2 Februari 2010 tulisan tersebut secara resmi dibatalkan dan ditarik pemimpin redaksi jurnal tersebut, Richard Horton. 

Tulisan itu telah ditelaah secara mendalam di Inggris dan isinya dinyatakan keliru dan menyesatkan oleh beberapa lembaga. Sepuluh dari 12 penulis selain Wakefield mengundurkan diri sebelum tulisan dibatalkan karena merasa ”diperdaya” oleh penulis utama. Wakefield sendiri diadili dalam berbagai forum dan kemudian kehilangan izin praktik sebagai dokter. 

Berbagai kekeliruan dalam tulisan tersebut menyangkut ketiadaan persetujuan etik, ketiadaan persetujuan dari subjek, pemalsuan data pasien, pengubahan data laboratorium, cacat metodologis karena tidak menggunakan kelompok kontrol, dan sebagainya.

Salah seorang yang paling berjasa membongkar kepalsuan tulisan Wakefield adalah wartawan Sunday Times bernama Brian Deer. Melalui penelitian selama sekitar 2 tahun, ia membuka seluruh borok dan memublikasikannya secara terus-menerus. 

Tags : #imunisasi
Kategori :