Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi (2)
ILUSTRASI Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi (2).-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SEBELUM merebaknya media sosial, upaya perlawanan terhadap imunisasi dilakukan secara sporadis. Di hampir setiap provinsi di Jawa memang ada tokoh-tokoh yang sudah dikenali. Namun, di antara mereka biasanya tidak ada komunikasi atau upaya bersama yang lebih masif.
Alasan tokoh di Jawa Barat berbeda dengan di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Latar belakang pendidikan dan aspek sosial budaya dari para tokoh itu juga beragam sehingga tidak ada pendekatan yang seragam terhadap mereka. Alasan yang terlihat dari pernyataan maupun sikap mereka juga berbeda satu sama lain.
Di seluruh Jawa di masa sebelum pandemi disinyalir ada 4–6 kelompok yang memberikan perlawanan terhadap vaksin, dan tentu saja dikenali dengan baik oleh jajaran tenaga kesehatan.
Situasi menjadi berbeda ketika media sosial merebak hingga saat ini. Upaya perlawanan dari satu orang atau satu kelompok bisa dengan mudah meluas melalui media sosial tersebut. Sudah jamak terjadi banyak orang tidak terlalu mementingkan apakah kandungan isi benar atau salah, yang penting segera sebarkan ke pihak lain.
BACA JUGA:Memahami Perlawanan terhadap Imunisasi
BACA JUGA:Rasionalisasi Imunisasi bagi Tenaga Kesehatan
Isu kontroversial tentu menjadi daya tarik yang menonjol. Isi yang ditampilkan bisa dibuat sendiri (berdasarkan berita atau peristiwa atau isu yang terjadi), tetapi biasanya diambil dari negara lain, terutama dari negara maju. Jika dalam tampilan tercantum nama orang asing atau data (yang keduanya biasanya palsu), daya tarik menjadi bertambah.
Sumber utama isi media sosial adalah Amerika Serikat, negeri yang menjadi surga kelompok antivaksin karena jumlah orang yang sangat besar dan perputaran uang yang juga besar.
Orang yang menyebarkan melalui media sosial hal melawan imunisasi ada yang bermotif ingin dikenal atau terkenal, dalam berbagai tingkat. Namun, ada pula yang bermotif ekonomi. Media sosial di era modern menjadi salah satu sumber penghasilan.
Makin kontroversial isu yang disajikan, makin besar potensi menjadi viral dan itu diikuti pendapatan yang juga akan makin besar. Perputaran uang anti-imunisasi di Amerika Serikat itu mencapai miliaran dolar.
BACA JUGA:108 Ribu Anak di Jatim Belum Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap, Untari Beri Tiga Strategi
BACA JUGA:Cegah Penyakit Menular pada Anak, Siswa SD-SMP di Surabaya Dapat Imunisasi Gratis
Di negeri kita tentu sudah biasa jika seorang penggiat media sosial menerima uang jutaan rupiah, dan bahkan puluhan atau ratusan juta, dari media sosial yang bersangkutan –dengan berbagai platform.
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu tonggak penting dalam perlawanan terhadap imunisasi. Di satu sisi, negeri kita sangat berhasil melaksanakan imunisasi terhadap SARS-CoV-2. Jumlah dosis yang diberikan di Indonesia menempati peringkat 4–5 dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: