Virus Ebola Bukan Tandingan Hanta dan Nipah

Selasa 21-07-2026,16:39 WIB
Oleh: Dominicus Husada*

Penularan tersering memang melalui lapisan mukosa atau selaput lendir di mata, hidung, atau mulut. Dengan mekanisme penularan demikian, tidak heran jika korban terbanyak adalah justru para tenaga kesehatan.

Jarak antara penularan virus dan munculnya keluhan dan tanda klinik adalah 2 hingga 21 hari. Orang yang terinfeksi akan mengalami demam tinggi secara mendadak, kelelahan yang relatif parah, nyeri otot dan sendi, nyeri kepala hebat, dan nyeri tenggorok. 

Selanjutnya, bisa dijumpai mual, muntah, diare, dan munculnya ruam di kulit. Komplikasi terberat adalah perdarahan, baik yang tampak maupun tidak tampak dari luar tubuh. Penyebab kematian yang utama adalah kekurangan cairan berat akibat diare dan muntah yang tidak bisa ditanggulangi serta perdarahan hebat. 

Tidak ada antivirus yang ampuh untuk melawan virus ebola. Upaya standar adalah memberikan dukungan akan kebutuhan harian tubuh serta jawaban terhadap masalah medis yang muncul orang per orang. 

Perawatan di unit intensif adalah upaya yang sangat sering dilakukan. Pada spesies sebelumnya tersedia antibodi monoklonal yang pada hakikatnya adalah imunisasi pasif untuk menjinakkan virus ebola. Pada spesies Budibugyo, antibodi tersebut tidak efektif. 

Di minggu-minggu terakhir ini berbagai pihak diimbau untuk meningkatkan alokasi anggaran, baik untuk pelayanan kesehatan maupun penelitian, guna menemukan obat untuk infeksi spesies Bundibugyo.

Dua vaksin aktif untuk mencegah infeksi virus ebola tersedia, tetapi hanya untuk spesies Zaire (Orthoebolavirus zairense). Vaksin itu tidak efektif untuk spesies Sudan maupun Budibugyo. Kandidat vaksin untuk Bundibugyo sebenarnya sudah mulai ada dan saat ini baru mulai memasuki tahap uji klinik fase pertama.

Kemungkinan penderita ebola masuk ke Indonesia selalu ada sekalipun relatif kecil. Banyak orang menduga jika seorang penderita ebola datang di salah satu bandara di Indonesia, akan sangat sulit mendeteksi pada saat itu mengenai status kesehatan yang bersangkutan, jika derajat sakitnya belum berat. 

Kecurigaan utama hanyalah riwayat kontak dengan penderita ebola sebelumnya atau daerah asal sebelum bepergian ke negeri kita. Fasilitas diagnostik tambahan memang tersedia, tetapi penggunaannya sangat bergantung pada kewaspadaan tenaga kesehatan yang bertugas.

Wabah ebola mempertegas kecenderungan di tahun-tahun terakhir bahwa semua penyakit yang baru muncul dan menyerang manusia berasal dari hewan. Virus ebola mempunyai inang alamiah kelelawar buah. Dalam tubuh kelelawar, virus itu tidak menyebabkan gejala dan tanda sakit. 

Selanjutnya, virus dapat masuk manusia dengan perantaraan beberapa hewan lain. Perpindahan virus dari hewan ke manusia adalah konsekuensi perubahan lingkungan dan perilaku yang makin nyata di dunia. Di masa mendatang masih cukup banyak virus atau bakteri atau jasad renik lain yang bisa berpindah dari hewan ke manusia. 

Belajar dari pengalaman dengan SARS-CoV-2, saat ini semua ilmuwan dan tenaga kesehatan berada dalam kondisi senantiasa siap siaga menghadapi semua kemungkinan, sambil berharap bahwa pengalaman tidak menyenangkan selama pandemi tidak benar-benar terjadi lagi. (*)

*) Dominicus Husada adalah guru besar dalam ranting ilmu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dari FK Unair/RSUD dr Soetomo, Surabaya.

 

Kategori :