Virus Nipah Menular dari Kelelawar, IDAI: Jangan Panik, Tetap Waspada

Virus Nipah Menular dari Kelelawar, IDAI: Jangan Panik, Tetap Waspada

Prof. Dr. Dominicus Husada saat pertemuan virtual dalam rangka edukasi dan peningkatan kewaspadaan penyebara virus Nipah pada Kamis, 29 Januari 2026-Dok. Pribadi-Tangkapan Layar

HARIAN DISWAY - Kabar merebaknya virus Nipah hingga saat ini menjadi perhatian serius bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Virus yang pertama kali ditemukan di daerah Sungai Nipah, Malaysia ini kini menginfeksi 2 tenaga kesehatan di Benggala Barat India.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia DR Dr Piprim Basarah Yanuarso menegaskan meskipun belum dideteksi adanya kasus virus Nipah di Indonesia, virus ini perlu diwaspadai. 

“Tidak perlu panik berlebihan, tapi kewaspadaan perlu dilakukan,” ujar DR Dr Piprim Basarah Yanuarso.

Prof. Dr. Dominicus Husada dalam press briefing pada Kamis, 29 Januari 2026 menyatakan hingga hari ini ada lebih dari 800 kasus di seluruh dunia. Kasus ini meliputi 5 negara; Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina.

BACA JUGA:Thailand Mulai Pencegahan Virus Nipah, Bagaimana Persiapan Indonesia?

BACA JUGA:Virus Nipah Tengah Merebak di India, Perlu Diwaspadai? Ini Jawaban Ahli

Virus Nipah merupakan virus zoonotik, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Salah satu inangnya adalah kelelawar buah, hewan nokturnal yang cukup banyak ditemukan di Indonesia. Kondisi ini membuat potensi risiko tidak bisa diabaikan.


Bentuk virus nipah yang bisa menyebabkan peradangan otak. -Kementerian Kesehatan RI-yankes.kemkes.go.id/

“Bisa jadi kasusnya ada tapi tidak terdeteksi,” jelas Prof Dominicus Husada.

Virus ini tidak mengenal batas usia. Anak-anak hingga orang dewasa sama-sama berisiko terinfeksi, terutama mereka yang beraktivitas dekat dengan hewan, seperti peternak, serta tenaga kesehatan yang merawat pasien terinfeksi Nipah.

Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui berbagai jalur, mulai dari konsumsi daging mentah, penularan dari hewan ke manusia, hingga antar manusia melalui cairan tubuh seperti liur dan urin. 

BACA JUGA:Lebih Kenal tentang Virus Nipah: Asal, Cara Penularan, Gejala, dan Cara Mencegah

BACA JUGA:Menyusul Virus Nipah yang Melanda India, Pemerintah RI Keluarkan Surat Kewaspadaan

Meskipun pola hampir mirip Covid-19, yaitu lewat kontak dan cairan, Prof Dominicus menilai virus Nipah kecil kemungkinannya menjadi pandemi global.

“Kalau pandemi kan seluruh dunia. Resiko wabah di tingkat lokal besar, tetapi resiko menjadi pandemi kecil. Bukan berarti nol, tapi kita harus waspada,” imbau Prof Dominicus.

Kewaspadaan menjadi kunci, mengingat kelelawar buah berperan besar dalam penularan berbagai penyakit akibat mutasi virus. Terlebih lagi hewan nokturnal ini banyak ditemui di sekitar kita.

Hingga kini, belum tersedia antivirus maupun vaksin khusus untuk virus Nipah. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan utama.

BACA JUGA:Virus PMK Terus Menyebar di Jatim, Infeksi 350 Ekor Ternak per Hari

BACA JUGA:HMPV Termasuk Pilek karena Virus, Kenali Bedanya dengan Flu

“Jangan anggap remeh virus Nipah, sekalipun kasusnya masih sedikit, ini justru saat kita untuk waspada,” pungkas Prof Dominicus.(*)

*) Peserta Magang dari Universitas Negeri Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: