Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

Jumat 24-07-2026,21:53 WIB
Oleh: Jokhanan Kristiyono*

DALAM artikelnya di Harian Disway, Selasa, 21 Juli 2026, Suko Widodo menggambarkan dengan cermat sebuah fenomena sosiologis yang menghinggapi generasi muda kita: kontrang-kantring. Sebuah keadaan saat anak muda berjalan ke sana kemari tanpa arah yang pasti. Bukan karena malas, melainkan karena kehilangan kompas di tengah era digital yang bergerak terlampau cepat. 

Hal itu juga disampaikan Gagas Gayuh Aji (Harian Disway, Rabu, 22 Juli 2026) tentang ketika manusia menjadi robot. Sebagai pengamat media dan teknologi komunikasi, saya sepakat dengan diagnosis tersebut. 

Jika kita menyelam lebih jauh ke dalam lanskap teknologi hari ini, pertanyaan krusialnya adalah  ”mengapa kompas itu justru hilang di saat teknologi berada di puncak kecerdasannya?”

Jawabannya terletak pada paradoks besar bernama kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kehadiran AI –yang dijanjikan sebagai penunjuk jalan paling presisi dalam sejarah manusia– kini justru berisiko mengubah lanskap masa depan menjadi sebuah labirin digital yang membingungkan. 

BACA JUGA:Generasi Digital yang Kontrang-kantring

BACA JUGA:Ketika Manusia Menjadi Robot: Meneruskan Pemikiran Suko Widodo tentang Generasi Kontrang-kantring

Generasi muda tidak lagi sekadar kekurangan penunjuk arah, tetapi juga sedang dijebak oleh ilusi kepastian yang diciptakan teknologi yang mereka genggam setiap hari.

Ilusi Kemampuan dan Kerentanan Epistemik

Di panggung kebudayaan visual dan media digital hari ini, AI generatif hadir bagaikan pesulap mutakhir. Hanya dengan satu baris prompt atau perintah sederhana, selembar desain grafis yang rumit bisa tercipta dalam hitungan detik, esai akademis dapat tersusun rapi, dan baris kode pemograman bisa langsung beroperasi. 

Laporan dari Gartner menunjukkan bahwa adopsi AI generatif di lingkungan kerja dan pendidikan melompat lebih dari 250 persen dalam dua tahun terakhir.

Bagi anak muda, itu menghadirkan kemudahan luar biasa. Namun, di balik kemudahan tersebut, tumbuh sebuah bahaya terselubung yang dalam psikologi kognitif disebut illusion of competence, yaitu ilusi bahwa seseorang telah menguasai sebuah keahlian, padahal ia hanya menguasai alatnya. 

Itu biasa disebut haluniasi kompetensi (competency hallucination), yakni seseorang merasa menguasai atau memiliki kemampuan tertentu, padahal tidak memilikinya.

Riset dari MIT Sloan School of Management mengingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dalam tugas-tugas kognitif berpotensi mengikis kemampuan critical thinking dan problem solving hingga 40 persen. 

Ketika proses belajar, pergulatan berpikir, dan kerumitan memecahkan masalah diambil alih oleh algoritma, anak muda berisiko kehilangan deep expertise (keahlian mendalam).

Mereka fasih mengoperasikan alat, tetapi gagap memahami esensi. Ketika melangkah ke dunia nyata atau pasar kerja yang menuntut kepemimpinan nyata, keputusannya tidak bisa lagi digantungkan pada mesin. 

Kategori :